Sabtu, 27 Juni 2015

#AWESOMEJOURNEY




Perhentian Terakhir di GILI TRAWANGAN
            Pagi-pagi sekali aku mulai mengemas barang-barangku yang akan ku bawa untuk perjalananku. Matras, kantung tidur, kotak p3k, jaket, celana dan beberapa baju lainnya. Semua kususun rapi menjadi satu ransel besar yang selalu menemaniku dalam setiap perjalananku.
            “KRIIIING… KRIIIING… KRIIING…”
            “Yup. Hallo ?”
            “Hei. Tak perlu menyegarkan suaramu ! Aku tahu kau baru membuka matamu”
            “Ummm… Hehe. Baiklah aku ketahuan, aku baru bangun”
            “Oh God. Aku mohon bergegaslah ! Jika tidak kita akan tertinggal kereta”
            “Ooo ayolah. Jam berapa ini ? Ini terlalu pagi untuk mataku”
            “Tak ada alasan ! Aku tahu keseharianmu, untuk menghabiskan waktumu di toilet saja kau sangat lama”. Aku terus meneriakinya pagi itu karena jika tidak kami akan benar-benar terlambat. “Cepetlah Risa ! Kau tak ingat harus berangkat dari Bogor ?”
            “Errrrrgh. Baiklah, aku bangun. Puas ?”
            “Terimakasih untuk itu dan cepatlah ! Nanti kita bertemu di stasiun Pasar Senen”
            “Oke. See yaa”
            “Oke”

            Alasanku untuk membangunkan Risa sepagi ini karena aku tahu kesehariannya. Pertama, ia suka tidur larut malam. Kedua, ia malas, tak teratur dan menyepelekan waktu. Untung saja ia tak seperti perempuan yang lainnya yang super ribet dan “super perfectionist”. Ooo… aku tak tahan jika ia juga memiliki sifat yang satu itu. Cukup kaos oblong, celana jeans, sepatu dan ransel.
            Aku dan Risa bersahabat cukup lama, dari kami masih duduk di SMP. Mungkin beberapa kesamaan yang bisa membuat kami seperti saudara kandung. Kami mempunyai mimpi yang sama, idealis, pecinta semesta, sastra, music (oh tidak, mungkin aku kalah garang dengannya) dan mendewakan tidur. Ya, mungkin itu yang membuat kami sangat dekat. Satu-satunya alasan aku mengajaknya dalam perjalananku kali ini, yaaa pertama memang ia adalah sahabat terdekatku. Pemikirannya hampir sama denganku, hanya saja ia lebih cerdas dariku. Pemikirannya tentang Semesta dan Ilmu Sains sangat membuatku kagum. Bahkan kami mempunya satu mimpi yang kami anggap sakral. “Aurora”. Ya, cahaya utara yang terjadi akibat adanya interaksi medan magnetik Bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari itu sangat membuat kami terkagum-kagum karenanya. Untuk itu kami bertekad untuk melihatnya secara langsung di suatu negara bernama “Islandia”. Tempat terlahirnya musik yang berkelas di telinga kami seperti Sigur Ros, Bjork dan lainnya. Sastra disana juga sangat bercita rasa tinggi.
            Lama sekali aku menunggu kedatangan Risa. Tiga botol koka telah bersarang di perutku dan bendunganku pun tak mampu menahannya dan jebol di toilet stasiun ini.
            “PING!!!”
            “Yup ?”
            “Kau dimana ?”
            “Toilet”
            “Baiklah, aku menunggu di loket”
            “Oke”
            Dan seperti yang telah kugambaran sebelumnya. Jeans rombeng, kaos oblong seadanya, sepatu dan ransel. Hhhah sudah di pastikan, aku adalah seorang cenayang. Hehe.
            “Heeeeii (PLAKKKK)” Sebuah telapak tangan mendarat di pipiku. “Heeeeii, long time no see. Oo ya, bagaimana keadaanmu ? Masih dengan kehidupan membosankan ? Haha”
            “Aaaaaw. What the … Aku baik saja sampai tangan kotormu mendarat dipipiku. Ya tentu, aku masih dengan kebosananku” Ia tahu betul bagaimana seluk beluk kehidupanku dan temanku yang satu ini (kebosanan). Karena kehidupannya pun tak jauh berbeda sepertiku. Sungguh ironis.
            Aku pernah merasakan titik terendah sebuah kebosanan yang mungkin orang lain tak pernah merasakannya. Ya. Itu terjadi di suatu pagi dimasa liburanku. Saat aku tak tahu apa yang harus dan akan ku lakukan sejak aku membuka kedua kelopak mataku dengan irama bising tangisan bocah yang selalu bersenandung di telingaku. Aku hanya termenung dalam diam, dalam kebisingan. Frustasi dengan gelap yang telah berubah menjadi terang, teriakan nyanyianku dan dentingan gitar tak cukup mengusir suatu hal yang kusebut dengan kebosanan itu. Aku masih berada di ranjangku dan mencoba meraih sebuah novel yang belum sempat kuselesaikan di atas rak sepatu yang secara ajaib telah berubah menjadi rak buku. Tak lama setelah itu pun novel itu berhasih mendarat di sudut kamarku. Semua gagal, otak kananku tak berfungsi saat itu. Aku hanya berputar di diameter lima. Oh tidak, itu tiga meter, dan salah satu tulang keringku berhasil mencium sudut meja di ruang tengah. Aku menyerah, bendera putih telah berkibar. Dan tidur kembali adalah pilihan terbaik saat itu.
            Pukul 10.30 WIB. Peluit petugas stasiun menandakan kereta kami akan segera berangkat. Untunglah kereta sekarang tak seperti kereta zaman dahulu yang bisa dimasuki “kambing” sekalipun. Meskipun sebenarnya aku tak pernah menaiki kereta zaman dulu. Hehe.
            “Aku berani bertaruh, semalam kau tak mengizinkan matamu untuk beristirahat. Jam berapa kau mulai tidur ?”
            “Ummmm, Insting cenayangmu semakin hari semakin membaik saja, haha. Jam 4, mungkin.”
            Aku hanya membuka rahang bawahku dan memalingkan mukaku ke jendela. Tak tahu apa yang harus ku katakan.
            “Heeii, aku punya alasan untuk itu. Aku hanya ingin terlelap di dalam perjalanan kereta. Untuk itulah aku tak membiarkan mataku terlelap. Dan sekarng tutup mulutmu dan biarkan aku tertidur ! Bangunkan aku jika telah sampai di Surabaya”
            “Hhhh terserah kau saja. Aku tak bisa menjaminnya kau bisa tertidur selama itu.”
            Tak berangsur lama setelah itu terdengar dengkuran halus di telinga sebelah kiriku. Hhhh sudahlah mungkin aku harus membaca peta dan menentukan kemana dan dimana persinggahan sementara kami. Kebosananku kembali mencuat karena tak ada teman mengobrol selama Risa tertidur. Ah sudahlah, demi mengusir kebosananku, aku perg ke sambungan kereta untuk mengambil beberapa gambar hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang. Puasku memanjakan mataku dengan kuning padi di sore hari, aku kembali ke tempat duduk untuk melihat Risa, aku khawatir ia tergeletak di lantai karena kelaparan. Kulihat ia masih terlelap, setelah aku memesan makanan aku langsung membangunkannya karena hari mulai gelap.
            “Ri… Risa… Bangunlah ! mari kita makan malam. Aku sudah memesan makanan untuk kkita berdua”
            Ia menggeliat seperti cacing yang dehidrasi di sahara yang sangat gersang dan mencoba membuka matanya. Aku malas melihat pemandangan itu.
            “Hooooammh, eh apa kita sudah sampai di Surabaya ?”
            “Belum, kita baru sampai di Jawa Tengah. Pergilah ke toilet dan singkirkan wajah lusuhmu dari hadapanku !”
            “Hehe, baiklah abang. Haha”
            Setelah makan malam tadi kurasa mataku mulai berat. Risa sudah melanjutkan tidurnya sedari tadi sejak ia menghaiskan makanannya. Akupun tak sanggup lagi menahan mataku untuk terbuka. Aku menjatuhkan punggungku di sandaran kursi yang berdiri 90o ini. Tanpa memerdulikannya aku terlelap dalam sisa perjalanan kami. Setibanya kami di Surabaya , kami menginap di stasiun untuk menunggu KA Mutiara Timur pagi nanti menuju Banyuwangi untuk menyeberang dari pelabuhan penyeberangan Ketapang ke Gili Manuk, Bali. Risa berkali-kali mengeluh atas terburu-burunya perjalanan kami. Kekesalannya memuncak ketika aku mengajaknya  untuk segera naik bus.
            “Riza, dengarkan aku ! Kenapa kita terburu-buru ? kukankah tak ada deadline yang membatasi kita ? liburanku cukup panjang, dan kau bebas mengatur waktumu sesukamu”
            “Entahlah, aku hanya ingin bersantai ketika kita sampai di tujuan kita”
            “Riza, sebuah pejalanan bukan hanya mengatarkanmu menuju ke tempat terakhir perjalananmu. Tapi ingat ! ini sebuah perjalanan Riza, kau harus melalui dan menikmatinya ! Ada apa denganmu ? Seharusnya kau menjadikan sebuah perjalanan ini menjadi mengagumkan ! Mengapa kau memasukanku di dalam perjalanan yang memaksa ?”
            “Memaksa ? Apa kau menganggap semua ini sebagai paksaan ? jika aku tahu akan seperti ini jadinya aku tak akan mau mengajakmu” Emosikupun memuncak disini. Aku menjatuhkan ranselnya yang sempat aku bawa dan aku langsung pergi meninggalkannya untuk naik bus. Aku tak tahu apakah ia menikutiku di belakang atau ia tetap tinggal. Yang pasti saat ini aku tak peduli dengannya.
            Aku berfikir “mungkin aku terlalu keras kepada Risa, aku akan meminta maaf padanya”. Saat aku memanjangkan leherku dari arah depan, aku tak melihar Risa di antara jok-jok itu. Aku mencoba menenangkan pikiranku, mungkin ia tertidur di antara jok itu. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mencari Risa di antara para penumpang yang lain. Nihil, ia tak ada di bus ini. Beberapa kali aku bolak balik memeriksa secara seksama setiap sudut bus itu dan tetap saja ia tak ada. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari kea rah sopir dan menyambar ranselku untu memberhentikan bus ini. Aku langsung menghambur keluar untuk kembali ketempat aku meninggalkan Risa. Tak ada angkutan lagi, jalanan sepi, beberapa kali aku meminta tumpangan ke setiap mobil yang melintas aku malah di teriaki sebagai orang gila karena aku memberhentikannya di tengah jalan. Akalku buyar, aku mencoba berlari untuk kembali tapi percuma, ini sudah seperempat perjalanan ke pelabuhan Padang, Bali. Aku mencoba meminta tumpangan ke mobil pick-up dengan cara yang beradab. Akhirnya bapak paruh baya mengizinkanku untuk naik di belakang pick-up nya karena kebetulan ia juga akan kearah sana. Setibanya aku di Gili Manuk berkali-kali aku mengucapkan terimakasih atas tumpangan yang di berikan bapak paruh baya itu. Aku berlari ke tempat terakhir aku meninggalkan Risa. Itulah Risa, ia takkan bertindak bodoh untuk menyulitkan orang lain dan ia masih dalam posisi ketika aku meningglkannya.
            “RISA… RISA…” aku berlari kearahnya dan ketika ia menyadari aku yang memanggilnya, ia langsung menghampiriku dan memelukku.
“Risa,,Risa. Maafkan aku, aku bodoh telah meninggalkanmu disini, maafkan aku Risa. Aku berjanji takkan sebodoh itu lagi” tangisku tak terbendung ketika kami berhasil bertemu kembali, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku kehilangannya disini.
            Dengan isak tangis yang masih tersisa ia mencoba tegar dan tersenyum. “Terimakasih telah kembali untukku Riza, aku sangat takut sendiri disini. Tolong jangan lakukan itu lagi !”
            “aku berjanji Risa, aku takkan melakukannya lagi”
            Sore itu juga kami langsung naik bus kearah pelabuhan Padang, Bali untuk menyeberang ke Mataram, Lombok. Di atas kapal yang membawa kami ke Mataram, karena aku tak terbiasa menggunakan jalur laut, aku selalu merasa mual. Perutku seperti diaduk dengan “Garpu Tala” garpu yang ada di novel “Buku Ini Tidak Baik Buatmu”, buku ke empat dari seri misterinya “Pseudonymous Bosch”. Bukan makanan enak yang di keluarkan tapi cairan berbau tak sedap yang selalu ku tumpahkan ke laut.
            Lega, ringan, keroncongan. Itu yang kurasakan setibanya kami di Mataram. Mungkin karena aku terlalu menguras isi perutku ketika di kapal. Dan kuliner adalah tujuan “pertama” kami ketika menginjakan kaki di Lombok ini. Aku tak ingin bermalasan setelah menyantap makanan karena kami pasti tertidur ketika perut kami kenyang. Langsung aku membuka lebar-lebar peta pulau Lombok ini. “Kemana kita akan pergi ? Apa yang akan kita lakukan disana ? dan Bagaimana kita sampai kesana ?” itu adalah rencana-rencana tak pasti kami, untuk sekarang aku akan mencari kendaraan sewaan untuk selalu mengantarkan kami ke tempat yang kami mau. “Motor trail” adalah kendaraan yang kami pilih. Pertama, motor itu sangat simple, ringan, cukup irit (itu yang paling penting) haha. Aku menemukan tempat penyewaan sepedamotor di belakang Hotel Lombok Plaza tepatnya di jalan Gelatik Cakranegara. Tariff untuk setiap motor yaitu 50 ribu per hari. Tetapi setelah beberapa lama kami bernegosiasi kami mendapat potongan harga karena kami akan menyewanya untuk beberapa hari. Yeay, kau harus ingat ! Gunakan Budget Seminim Mungkin untuk menjadi seorang backpacker. Kami langsung menuju pantai Kuta, Lombok. Sekitar 56km dari Mataram.
            “Aaaaaaaaaaaaa I LOVE YOU LOMBOOOOOK I LOVE YOU INDONESIAAAAAAAAA”
            Aku terkaget karena teriakan sekaligus keseimbangan motor yang ku kemudikan. Ternyata semua gangguan itu berasal dari tingkah gilanya Risa yang berteriak dengan berdiri di belakangku. Aku tak ingin kalah, aku akan melakukan tindakan lebih gila lagi. Aku berdiri dengan mengacungkan tangan kiriku.
            “WHOOOOOOOOOOOOH AWESOME JOURNEEEEEEEEEEEEEEY. AKU TAK AKAN KALAH GILA OLEHMU RISAAAAAAAAAA WHOOOOOOOOOOOOOOH”
            “KAU BENAR-BENAR GILA RIZAAAAAAAAAAA. HAHAHAHAHA”
            “TAK APAAAAAAA. AKU GILA KARENA SEMESTAAAAAA”
Teriakan kami saling bersautan dengan gemerisik daun kelapa yang di terpa angin. Kami beristirahat di tepi pantai kuta ini. Aku mengikatkan Hammock di kedua batang pohon kelapa yang saling berdekatan untuk sekedar kami memicingkan mata kami untuk sesaat.
            Putihnya awan, biruunya lagit, hijau air laut di bibir pantai dan semakin biru ketika pandangan mulai menjauh sungguh gradiasi warna yang indah dari sang maha pencipta. Terimakasih tuhan, kau telah menciptakan simpony yang indah di alam ini. Sore ini pertama kalinya kami disuguhkan cahaya jingga dari sang surya di Lombok ini.
            Keesokan harinya setelah kami menyantap “Ayam Taliwang dan Ares” (makanan khas Lombok)kami melanjutkan perjalanan ke pantai senggigi. Ditengah perjalanan kami menemukan sebuah desa tradisional bernama “Dusun Sade”. Kebetulan sekali sekarang sedang diadakan tradisi “PRESEAN” yaitu persembahan untuk acara penyambutan tamu. Begitu aku masuk Dalam kerumunan aku langsung dipilih oleh seorang Pakembar (sebutan untuk seorang wasit) untuk menjadi Pepadu (petarung) dengan was-was aku mengiyakan pilihan pakembar itu. Dengan tubuhku hanya unggul dalam ketinggian dan selebihnya, alhasil aku kalah dengan biru-biru di punggungku. Untung saja berkat ramuan ajaib dari seorang tabib dusun ini rasa sakitku berkurang. Setelah aku mengucapkan rasa terimakasihku kepada warga dusun sade yang sangat ramah dan berfoto ria di depan rumah tradisional mereka, aku melanjutkan perjalananku ke pantai Senggigi.
            Pantai ini berbeda dengan pantai sebelumnya. Disini cenderung ramai dan gradiasi warna disini juga berbeda. Gradiasi warna pasir yang hitam dan putih juga campuran warna hijau ke biru air laut sungguh memanjakan mata. Berbagai permainan air bisa di lakukan disini. Dari berenang, snorkeling, diving, banana boat bisa dilakukan dipantai ini. Kami berhasil menjamah semua permainan air dengan suka cita dan puncaknya kami kembali menikmati lukisan alam yang di dominasi oleh jingga. Orang-orang di pantai ini berlomba-lomba mengabadikan moment ini dengan kamera mereka. Sedangkan kami ? hanya terbaring bahagia menyaksikan senja yang kami abadikan dalam memori otak kami yang tak berbatas.
            Sebelum matahari mendahului kami, kami telah berkemas untuk meninggalkan pantai senggigi dan langsung menuju ke pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan.sebelum kami menyeberang ke Gili Trawangan kami menyempatkan diri ke Pusuk Pass. Sebuah kawasan hutan wisata dengan luas 43.550,23 hektar dan 162 jenis pohon hidup disini. Aku terkaget-kaget karena sekawanan monyet datang menghampiri kami. Ternyata monyet-monyet ini jinak dan telah terbiasa dengan keberadaan manusia dan kali ini aku ingin mengabadikan moment itu dengan kamera yang ku punya. Saat aku berfoto ria dengan sekawanan monyet itu dan Risa… ? Risa… dimana dia ? ketika aku melihat ke belakang, Risa sangat ketakutan dan berlari pontang-panting sampai ranselnya ia tinggalkan di belakangku. Haha. Aku sempat mengambil gambar Risa dari arah belakang dengan tubuhnya yang terpogoh-pogoh. Aku menyusulnya dan mengajaknya kembali ke kerumunan itu dan wajahku kembali terkena hantaman tangannya. Aku menyerah dan langsung mengajaknya menyeberang ke Gili Trawangan.
            HOLA “WELCOME TO GILI TRAWANGAN” ketika aku membaca plang itu aku langsung mencium aroma kebahagiaan. Mungkin ini aroma yang akan ku hirup ketika aku bisa menggapai impianku. Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika kau menemukan sebuah pulau dengan adanya peradaban di dalamnya ( listrik, tv, internet) tetapi tidak ada kendaraan bermotor sejauh kaki berpijak.sepeda menjadi alternative lain selain Cidomo (sejenis andong di Jogjakarta) untuk bisa berpetualang di pulau ini. Aku langsung bisa membayangkan betapa tenang dan segarnya pulau ini. Sungguh surga dunia untuk para pecinta lingkungan.
            Untuk menyewa sepeda, tariff sebesar 30 ribu untuk satu hari penuh. Bersepeda di Gili Trawangan akan terasa sangat berbeda, bukan hanya pemandangan dan suasananya tetapi kami juga berada di antara dua pulau eksotis yang berada di Indonesia. Bali dan Lombok. Pemandangan disisi timur dengan gunung Rinjaninya dan Bali dengan gunung Agung sebagai puncak tertingginya.
            Saat kami bersepeda sesekali aku bercanda dengan Risa dari saling menyalib samopai balapan. Tak jarang kami berakhir di selokan dan untung saja bukan selokan di Jakarta. Hari ertama kami disini kami habiskan dengan berkeliling Lombok dengan sepeda. Senja ini kembali ku menyaksikan keindahan lukisan sang pencipta. Malam ini kami terlelap di temani ribuan bintang yang menggantung di atas kepala kami.
            Irama hangat sang surya membangunkanku pagi itu. Aku melihat Risa masih tertidur dengan pulasnya “biarkan saja ia tertidur, mungkin ia terlalu lelah” pikirku. Hari kedua di Gili Trawangan kami langsung berencana menghabiskan waktu di air. Setelah mengisi perut kami langsung berlari ke pantai dan bermain air di lanjutkan dengan perjalanan ke tempat snorkeling dengan kapal nelayan. AndFinaly, I Found the Beautiful Coral Reefs. Tak salah Indonesia menjadi salah satu dati segitiga terumbu karang. Semoga kita dan anak cucu kita akan tetap menikmati keindahan ini. Senja kali ini seakan membahasakan kami di pengujung sinarnya. Ia seakan berkata “Apakah kalian ingin mewariskan keindahan cahaya senjaku untuk anak cucumu kelak ? Berhentilah mengacau  dan mengotori planet kalian !Maka kelak nanti anak cucu kalian akan melihat pesonaku”
            Pagi ini kami siap-siap untuk kembali ke hiruk-pikuk polusi kota. Aku dengan Jakarta dan Risa dengan Bogornya. Di perjalanan kereta menuju Jakarta tiba-tiba Risa berkata “Riza. Aku sangat berterimakasih karena kau telah menjadikanku tokoh dalam bab yang kau tulis kali ini”. Itu kalimat Risa sebelum ia terlelap di pundakku.”Risa. aku akan selalu menjadikanmu sebagai tokoh di setiap bab yang akan kutulis selanjutnya. Semoga impian kita bisa kita capai kelak nanti. Terimakasih Risa. 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

    Choose :
  • OR
  • To comment
Tidak ada komentar:
Write komentar