Perhentian
Terakhir di GILI TRAWANGAN
Pagi-pagi sekali aku mulai mengemas
barang-barangku yang akan ku bawa untuk perjalananku. Matras, kantung tidur,
kotak p3k, jaket, celana dan beberapa baju lainnya. Semua kususun rapi menjadi
satu ransel besar yang selalu menemaniku dalam setiap perjalananku.
“KRIIIING… KRIIIING… KRIIING…”
“Yup. Hallo ?”
“Hei. Tak perlu menyegarkan suaramu
! Aku tahu kau baru membuka matamu”
“Ummm… Hehe. Baiklah aku ketahuan,
aku baru bangun”
“Oh God. Aku mohon bergegaslah ! Jika
tidak kita akan tertinggal kereta”
“Ooo ayolah. Jam berapa ini ? Ini
terlalu pagi untuk mataku”
“Tak ada alasan ! Aku tahu
keseharianmu, untuk menghabiskan waktumu di toilet saja kau sangat lama”. Aku
terus meneriakinya pagi itu karena jika tidak kami akan benar-benar terlambat.
“Cepetlah Risa ! Kau tak ingat harus berangkat dari Bogor ?”
“Errrrrgh. Baiklah, aku bangun. Puas
?”
“Terimakasih untuk itu dan cepatlah
! Nanti kita bertemu di stasiun Pasar Senen”
“Oke. See yaa”
“Oke”
Alasanku untuk membangunkan Risa
sepagi ini karena aku tahu kesehariannya. Pertama, ia suka tidur larut malam.
Kedua, ia malas, tak teratur dan menyepelekan waktu. Untung saja ia tak seperti
perempuan yang lainnya yang super ribet dan “super perfectionist”. Ooo… aku tak
tahan jika ia juga memiliki sifat yang satu itu. Cukup kaos oblong, celana
jeans, sepatu dan ransel.
Aku dan Risa bersahabat cukup lama,
dari kami masih duduk di SMP. Mungkin beberapa kesamaan yang bisa membuat kami
seperti saudara kandung. Kami mempunyai mimpi yang sama, idealis, pecinta
semesta, sastra, music (oh tidak, mungkin aku kalah garang dengannya) dan
mendewakan tidur. Ya, mungkin itu yang membuat kami sangat dekat. Satu-satunya
alasan aku mengajaknya dalam perjalananku kali ini, yaaa pertama memang ia
adalah sahabat terdekatku. Pemikirannya hampir sama denganku, hanya saja ia
lebih cerdas dariku. Pemikirannya tentang Semesta dan Ilmu Sains sangat
membuatku kagum. Bahkan kami mempunya satu mimpi yang kami anggap sakral.
“Aurora”. Ya, cahaya utara yang terjadi akibat adanya interaksi medan magnetik
Bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari itu sangat
membuat kami terkagum-kagum karenanya. Untuk itu kami bertekad untuk melihatnya
secara langsung di suatu negara bernama “Islandia”. Tempat terlahirnya musik
yang berkelas di telinga kami seperti Sigur Ros, Bjork dan lainnya. Sastra
disana juga sangat bercita rasa tinggi.
Lama sekali aku menunggu kedatangan
Risa. Tiga botol koka telah bersarang di perutku dan bendunganku pun tak mampu
menahannya dan jebol di toilet stasiun ini.
“PING!!!”
“Yup ?”
“Kau dimana ?”
“Toilet”
“Baiklah, aku menunggu di loket”
“Oke”
Dan seperti yang telah kugambaran
sebelumnya. Jeans rombeng, kaos oblong seadanya, sepatu dan ransel. Hhhah sudah
di pastikan, aku adalah seorang cenayang. Hehe.
“Heeeeii (PLAKKKK)” Sebuah telapak
tangan mendarat di pipiku. “Heeeeii, long time no see. Oo ya, bagaimana
keadaanmu ? Masih dengan kehidupan membosankan ? Haha”
“Aaaaaw. What the … Aku baik saja
sampai tangan kotormu mendarat dipipiku. Ya tentu, aku masih dengan
kebosananku” Ia tahu betul bagaimana seluk beluk kehidupanku dan temanku yang
satu ini (kebosanan). Karena kehidupannya pun tak jauh berbeda sepertiku.
Sungguh ironis.
Aku pernah merasakan titik terendah
sebuah kebosanan yang mungkin orang lain tak pernah merasakannya. Ya. Itu
terjadi di suatu pagi dimasa liburanku. Saat aku tak tahu apa yang harus dan
akan ku lakukan sejak aku membuka kedua kelopak mataku dengan irama bising
tangisan bocah yang selalu bersenandung di telingaku. Aku hanya termenung dalam
diam, dalam kebisingan. Frustasi dengan gelap yang telah berubah menjadi
terang, teriakan nyanyianku dan dentingan gitar tak cukup mengusir suatu hal
yang kusebut dengan kebosanan itu. Aku masih berada di ranjangku dan mencoba
meraih sebuah novel yang belum sempat kuselesaikan di atas rak sepatu yang
secara ajaib telah berubah menjadi rak buku. Tak lama setelah itu pun novel itu
berhasih mendarat di sudut kamarku. Semua gagal, otak kananku tak berfungsi
saat itu. Aku hanya berputar di diameter lima. Oh tidak, itu tiga meter, dan
salah satu tulang keringku berhasil mencium sudut meja di ruang tengah. Aku
menyerah, bendera putih telah berkibar. Dan tidur kembali adalah pilihan
terbaik saat itu.
Pukul 10.30 WIB. Peluit petugas
stasiun menandakan kereta kami akan segera berangkat. Untunglah kereta sekarang
tak seperti kereta zaman dahulu yang bisa dimasuki “kambing” sekalipun.
Meskipun sebenarnya aku tak pernah menaiki kereta zaman dulu. Hehe.
“Aku berani bertaruh, semalam kau
tak mengizinkan matamu untuk beristirahat. Jam berapa kau mulai tidur ?”
“Ummmm, Insting cenayangmu semakin
hari semakin membaik saja, haha. Jam 4, mungkin.”
Aku hanya membuka rahang bawahku dan
memalingkan mukaku ke jendela. Tak tahu apa yang harus ku katakan.
“Heeii, aku punya alasan untuk itu.
Aku hanya ingin terlelap di dalam perjalanan kereta. Untuk itulah aku tak
membiarkan mataku terlelap. Dan sekarng tutup mulutmu dan biarkan aku tertidur
! Bangunkan aku jika telah sampai di Surabaya”
“Hhhh terserah kau saja. Aku tak
bisa menjaminnya kau bisa tertidur selama itu.”
Tak berangsur lama setelah itu
terdengar dengkuran halus di telinga sebelah kiriku. Hhhh sudahlah mungkin aku
harus membaca peta dan menentukan kemana dan dimana persinggahan sementara
kami. Kebosananku kembali mencuat karena tak ada teman mengobrol selama Risa
tertidur. Ah sudahlah, demi mengusir kebosananku, aku perg ke sambungan kereta
untuk mengambil beberapa gambar hamparan sawah yang membentang sejauh mata
memandang. Puasku memanjakan mataku dengan kuning padi di sore hari, aku
kembali ke tempat duduk untuk melihat Risa, aku khawatir ia tergeletak di
lantai karena kelaparan. Kulihat ia masih terlelap, setelah aku memesan makanan
aku langsung membangunkannya karena hari mulai gelap.
“Ri… Risa… Bangunlah ! mari kita
makan malam. Aku sudah memesan makanan untuk kkita berdua”
Ia menggeliat seperti cacing yang
dehidrasi di sahara yang sangat gersang dan mencoba membuka matanya. Aku malas
melihat pemandangan itu.
“Hooooammh, eh apa kita sudah sampai
di Surabaya ?”
“Belum, kita baru sampai di Jawa
Tengah. Pergilah ke toilet dan singkirkan wajah lusuhmu dari hadapanku !”
“Hehe, baiklah abang. Haha”
Setelah makan malam tadi kurasa
mataku mulai berat. Risa sudah melanjutkan tidurnya sedari tadi sejak ia
menghaiskan makanannya. Akupun tak sanggup lagi menahan mataku untuk terbuka.
Aku menjatuhkan punggungku di sandaran kursi yang berdiri 90o ini.
Tanpa memerdulikannya aku terlelap dalam sisa perjalanan kami. Setibanya kami
di Surabaya , kami menginap di stasiun untuk menunggu KA Mutiara Timur pagi
nanti menuju Banyuwangi untuk menyeberang dari pelabuhan penyeberangan Ketapang
ke Gili Manuk, Bali. Risa berkali-kali mengeluh atas terburu-burunya perjalanan
kami. Kekesalannya memuncak ketika aku mengajaknya untuk segera naik bus.
“Riza, dengarkan aku ! Kenapa kita
terburu-buru ? kukankah tak ada deadline yang membatasi kita ? liburanku cukup
panjang, dan kau bebas mengatur waktumu sesukamu”
“Entahlah, aku hanya ingin bersantai
ketika kita sampai di tujuan kita”
“Riza, sebuah pejalanan bukan hanya
mengatarkanmu menuju ke tempat terakhir perjalananmu. Tapi ingat ! ini sebuah
perjalanan Riza, kau harus melalui dan menikmatinya ! Ada apa denganmu ?
Seharusnya kau menjadikan sebuah perjalanan ini menjadi mengagumkan ! Mengapa
kau memasukanku di dalam perjalanan yang memaksa ?”
“Memaksa ? Apa kau menganggap semua
ini sebagai paksaan ? jika aku tahu akan seperti ini jadinya aku tak akan mau
mengajakmu” Emosikupun memuncak disini. Aku menjatuhkan ranselnya yang sempat
aku bawa dan aku langsung pergi meninggalkannya untuk naik bus. Aku tak tahu
apakah ia menikutiku di belakang atau ia tetap tinggal. Yang pasti saat ini aku
tak peduli dengannya.
Aku berfikir “mungkin aku terlalu
keras kepada Risa, aku akan meminta maaf padanya”. Saat aku memanjangkan
leherku dari arah depan, aku tak melihar Risa di antara jok-jok itu. Aku
mencoba menenangkan pikiranku, mungkin ia tertidur di antara jok itu. Aku
beranjak dari tempat dudukku dan mencari Risa di antara para penumpang yang
lain. Nihil, ia tak ada di bus ini. Beberapa kali aku bolak balik memeriksa
secara seksama setiap sudut bus itu dan tetap saja ia tak ada. Tanpa berpikir
panjang aku langsung berlari kea rah sopir dan menyambar ranselku untu
memberhentikan bus ini. Aku langsung menghambur keluar untuk kembali ketempat
aku meninggalkan Risa. Tak ada angkutan lagi, jalanan sepi, beberapa kali aku
meminta tumpangan ke setiap mobil yang melintas aku malah di teriaki sebagai
orang gila karena aku memberhentikannya di tengah jalan. Akalku buyar, aku
mencoba berlari untuk kembali tapi percuma, ini sudah seperempat perjalanan ke
pelabuhan Padang, Bali. Aku mencoba meminta tumpangan ke mobil pick-up dengan
cara yang beradab. Akhirnya bapak paruh baya mengizinkanku untuk naik di
belakang pick-up nya karena kebetulan ia juga akan kearah sana. Setibanya aku
di Gili Manuk berkali-kali aku mengucapkan terimakasih atas tumpangan yang di
berikan bapak paruh baya itu. Aku berlari ke tempat terakhir aku meninggalkan
Risa. Itulah Risa, ia takkan bertindak bodoh untuk menyulitkan orang lain dan
ia masih dalam posisi ketika aku meningglkannya.
“RISA… RISA…” aku berlari kearahnya
dan ketika ia menyadari aku yang memanggilnya, ia langsung menghampiriku dan
memelukku.
“Risa,,Risa.
Maafkan aku, aku bodoh telah meninggalkanmu disini, maafkan aku Risa. Aku
berjanji takkan sebodoh itu lagi” tangisku tak terbendung ketika kami berhasil
bertemu kembali, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku kehilangannya
disini.
Dengan isak tangis yang masih
tersisa ia mencoba tegar dan tersenyum. “Terimakasih telah kembali untukku
Riza, aku sangat takut sendiri disini. Tolong jangan lakukan itu lagi !”
“aku berjanji Risa, aku takkan
melakukannya lagi”
Sore itu juga kami langsung naik bus
kearah pelabuhan Padang, Bali untuk menyeberang ke Mataram, Lombok. Di atas
kapal yang membawa kami ke Mataram, karena aku tak terbiasa menggunakan jalur
laut, aku selalu merasa mual. Perutku seperti diaduk dengan “Garpu Tala” garpu
yang ada di novel “Buku Ini Tidak Baik Buatmu”, buku ke empat dari seri
misterinya “Pseudonymous Bosch”. Bukan makanan enak yang di keluarkan tapi
cairan berbau tak sedap yang selalu ku tumpahkan ke laut.
Lega, ringan, keroncongan. Itu yang
kurasakan setibanya kami di Mataram. Mungkin karena aku terlalu menguras isi
perutku ketika di kapal. Dan kuliner adalah tujuan “pertama” kami ketika
menginjakan kaki di Lombok ini. Aku tak ingin bermalasan setelah menyantap
makanan karena kami pasti tertidur ketika perut kami kenyang. Langsung aku
membuka lebar-lebar peta pulau Lombok ini. “Kemana kita akan pergi ? Apa yang
akan kita lakukan disana ? dan Bagaimana kita sampai kesana ?” itu adalah
rencana-rencana tak pasti kami, untuk sekarang aku akan mencari kendaraan
sewaan untuk selalu mengantarkan kami ke tempat yang kami mau. “Motor trail”
adalah kendaraan yang kami pilih. Pertama, motor itu sangat simple, ringan,
cukup irit (itu yang paling penting) haha. Aku menemukan tempat penyewaan
sepedamotor di belakang Hotel Lombok Plaza tepatnya di jalan Gelatik
Cakranegara. Tariff untuk setiap motor yaitu 50 ribu per hari. Tetapi setelah
beberapa lama kami bernegosiasi kami mendapat potongan harga karena kami akan
menyewanya untuk beberapa hari. Yeay, kau harus ingat ! Gunakan Budget Seminim Mungkin
untuk menjadi seorang backpacker. Kami langsung menuju pantai Kuta,
Lombok. Sekitar 56km dari Mataram.
“Aaaaaaaaaaaaa I LOVE YOU LOMBOOOOOK
I LOVE YOU INDONESIAAAAAAAAA”
Aku terkaget karena teriakan
sekaligus keseimbangan motor yang ku kemudikan. Ternyata semua gangguan itu
berasal dari tingkah gilanya Risa yang berteriak dengan berdiri di belakangku.
Aku tak ingin kalah, aku akan melakukan tindakan lebih gila lagi. Aku berdiri
dengan mengacungkan tangan kiriku.
“WHOOOOOOOOOOOOH AWESOME
JOURNEEEEEEEEEEEEEEY. AKU TAK AKAN KALAH GILA OLEHMU RISAAAAAAAAAA
WHOOOOOOOOOOOOOOH”
“KAU BENAR-BENAR GILA
RIZAAAAAAAAAAA. HAHAHAHAHA”
“TAK APAAAAAAA. AKU GILA KARENA
SEMESTAAAAAA”
Teriakan kami saling bersautan dengan gemerisik daun
kelapa yang di terpa angin. Kami beristirahat di tepi pantai kuta ini. Aku
mengikatkan Hammock di kedua batang pohon kelapa yang saling berdekatan untuk
sekedar kami memicingkan mata kami untuk sesaat.
Putihnya awan, biruunya lagit, hijau
air laut di bibir pantai dan semakin biru ketika pandangan mulai menjauh
sungguh gradiasi warna yang indah dari sang maha pencipta. Terimakasih tuhan,
kau telah menciptakan simpony yang indah di alam ini. Sore ini pertama kalinya
kami disuguhkan cahaya jingga dari sang surya di Lombok ini.
Keesokan harinya setelah kami
menyantap “Ayam Taliwang dan Ares” (makanan khas Lombok)kami melanjutkan
perjalanan ke pantai senggigi. Ditengah perjalanan kami menemukan sebuah desa
tradisional bernama “Dusun Sade”. Kebetulan sekali sekarang sedang diadakan
tradisi “PRESEAN” yaitu persembahan untuk acara penyambutan tamu. Begitu aku
masuk Dalam kerumunan aku langsung dipilih oleh seorang Pakembar (sebutan untuk
seorang wasit) untuk menjadi Pepadu (petarung) dengan was-was aku mengiyakan
pilihan pakembar itu. Dengan tubuhku hanya unggul dalam ketinggian dan
selebihnya, alhasil aku kalah dengan biru-biru di punggungku. Untung saja
berkat ramuan ajaib dari seorang tabib dusun ini rasa sakitku berkurang.
Setelah aku mengucapkan rasa terimakasihku kepada warga dusun sade yang sangat
ramah dan berfoto ria di depan rumah tradisional mereka, aku melanjutkan
perjalananku ke pantai Senggigi.
Pantai ini berbeda dengan pantai
sebelumnya. Disini cenderung ramai dan gradiasi warna disini juga berbeda.
Gradiasi warna pasir yang hitam dan putih juga campuran warna hijau ke biru air
laut sungguh memanjakan mata. Berbagai permainan air bisa di lakukan disini.
Dari berenang, snorkeling, diving, banana boat bisa dilakukan dipantai ini.
Kami berhasil menjamah semua permainan air dengan suka cita dan puncaknya kami
kembali menikmati lukisan alam yang di dominasi oleh jingga. Orang-orang di
pantai ini berlomba-lomba mengabadikan moment ini dengan kamera mereka. Sedangkan
kami ? hanya terbaring bahagia menyaksikan senja yang kami abadikan dalam
memori otak kami yang tak berbatas.
Sebelum matahari mendahului kami,
kami telah berkemas untuk meninggalkan pantai senggigi dan langsung menuju ke
pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan.sebelum kami menyeberang
ke Gili Trawangan kami menyempatkan diri ke Pusuk Pass. Sebuah kawasan hutan
wisata dengan luas 43.550,23 hektar dan 162 jenis pohon hidup disini. Aku
terkaget-kaget karena sekawanan monyet datang menghampiri kami. Ternyata
monyet-monyet ini jinak dan telah terbiasa dengan keberadaan manusia dan kali
ini aku ingin mengabadikan moment itu dengan kamera yang ku punya. Saat aku
berfoto ria dengan sekawanan monyet itu dan Risa… ? Risa… dimana dia ? ketika aku
melihat ke belakang, Risa sangat ketakutan dan berlari pontang-panting sampai
ranselnya ia tinggalkan di belakangku. Haha. Aku sempat mengambil gambar Risa
dari arah belakang dengan tubuhnya yang terpogoh-pogoh. Aku menyusulnya dan
mengajaknya kembali ke kerumunan itu dan wajahku kembali terkena hantaman
tangannya. Aku menyerah dan langsung mengajaknya menyeberang ke Gili Trawangan.
HOLA “WELCOME TO GILI TRAWANGAN”
ketika aku membaca plang itu aku langsung mencium aroma kebahagiaan. Mungkin
ini aroma yang akan ku hirup ketika aku bisa menggapai impianku. Tidak ada yang
lebih menyenangkan ketika kau menemukan sebuah pulau dengan adanya peradaban di
dalamnya ( listrik, tv, internet) tetapi tidak ada kendaraan bermotor sejauh
kaki berpijak.sepeda menjadi alternative lain selain Cidomo (sejenis andong di
Jogjakarta) untuk bisa berpetualang di pulau ini. Aku langsung bisa
membayangkan betapa tenang dan segarnya pulau ini. Sungguh surga dunia untuk
para pecinta lingkungan.
Untuk menyewa sepeda, tariff sebesar
30 ribu untuk satu hari penuh. Bersepeda di Gili Trawangan akan terasa sangat
berbeda, bukan hanya pemandangan dan suasananya tetapi kami juga berada di
antara dua pulau eksotis yang berada di Indonesia. Bali dan Lombok. Pemandangan
disisi timur dengan gunung Rinjaninya dan Bali dengan gunung Agung sebagai
puncak tertingginya.
Saat kami bersepeda sesekali aku
bercanda dengan Risa dari saling menyalib samopai balapan. Tak jarang kami
berakhir di selokan dan untung saja bukan selokan di Jakarta. Hari ertama kami
disini kami habiskan dengan berkeliling Lombok dengan sepeda. Senja ini kembali
ku menyaksikan keindahan lukisan sang pencipta. Malam ini kami terlelap di
temani ribuan bintang yang menggantung di atas kepala kami.
Irama hangat sang surya
membangunkanku pagi itu. Aku melihat Risa masih tertidur dengan pulasnya
“biarkan saja ia tertidur, mungkin ia terlalu lelah” pikirku. Hari kedua di
Gili Trawangan kami langsung berencana menghabiskan waktu di air. Setelah
mengisi perut kami langsung berlari ke pantai dan bermain air di lanjutkan
dengan perjalanan ke tempat snorkeling dengan kapal nelayan. AndFinaly,
I Found the Beautiful Coral Reefs. Tak salah Indonesia menjadi
salah satu dati segitiga terumbu karang. Semoga kita dan anak cucu kita akan
tetap menikmati keindahan ini. Senja kali ini seakan membahasakan kami di
pengujung sinarnya. Ia seakan berkata “Apakah kalian ingin mewariskan keindahan
cahaya senjaku untuk anak cucumu kelak ? Berhentilah mengacau dan mengotori planet kalian !Maka kelak nanti
anak cucu kalian akan melihat pesonaku”
Pagi ini kami siap-siap untuk
kembali ke hiruk-pikuk polusi kota. Aku dengan Jakarta dan Risa dengan
Bogornya. Di perjalanan kereta menuju Jakarta tiba-tiba Risa berkata “Riza. Aku
sangat berterimakasih karena kau telah menjadikanku tokoh dalam bab yang kau
tulis kali ini”. Itu kalimat Risa sebelum ia terlelap di pundakku.”Risa. aku
akan selalu menjadikanmu sebagai tokoh di setiap bab yang akan kutulis
selanjutnya. Semoga impian kita bisa kita capai kelak nanti. Terimakasih Risa.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Tidak ada komentar:
Write komentar