Sabtu, 24 Oktober 2015

#SAFETYFIRST


Piatu Pemberani

Setelah mengikat tali sepau aku berpamitan kepada ayah untuk berangkat ke sekolah. Har ini Aku menolak di antar ayah ke sekolah karena ia sangat terlihat sibuk dari semalam. Dengan jadwal pemotretannya, merapikan rumah, menyapu halaman dan menyiapkan sarapan untukku. Belum lagi ia harus mengantarku pergi ke sekolah.
           
“Ayah, aku berangkat ya.”
            “Iya Zarah, sebentar ayah ambil kunci dulu.”
            “Ga apa-apa yah. Aku kan udah biasa sendiri kalo ayah ke luar kota.”
            “Tapi kan sekarang ayah ada di rumah.”
            “Ga apa-apa yah, aku berangkat sendiri aja. Aku kan udah mau kelas lima. Aku harus belajar mandiri yah.”
            “Kamu yakin ?”
            “Iya yah. Aku pamit ya.”
            “Ya udah kamu hati-hati ya nak. Kalo ada apa-apa di sekolah minta tolong aja sama bu guru buat telepon ke ayah.”
            “Iya yah. Daah…”
           
            Aku tidak mau merepotkan ayah. Ayah sudah terlalu sibuk dengan rutinitasnya. Sejakibu meninggal, ayah menjadi dua sosok dalam kehidupanku. Tegas, melindungi, menafkahi sebagai ayah dan penyayang, resik serta memasak sebagai ibu. Aku beruntung mempunyai ayah seperti itu. Lagipula jika ayah sedang melakukan pemotretan di luar kota aku sering melakukan semua hal sendiri. Dari mulai terbangun sendiri, merapikan tempat tidurku, memanggang roti untuk sarapanku dan membawa kunci rumahku sendiri. Ayah juga yang mengajariku semua itu.

            “Permisi… Permisi…”
            “Ya sebentar… Eh Zarah, ga di anter sama ayah ?”
            “Enggak tante. Mei udah berangkat ?”
            “Belum ko. Mei masih pake sepatu di dalam, tunggu sebentar ya.”
            “Hai Zarah, yuk berangkat.” Mei keluar dengan tergesa dan lansung mengajakku pergi.
            “Kamu ga pamit dulu sama mama kamu ?”
            “Ga usah ah, lama. Yuk berangkat.”
            “Tante kita berangkat ya.” Mungkin Mei belum merasakan bagaimana berartinya kecupan di punggung tangan orang tua jika itu yang menjadi yang terakhir.

Saat aku dan Mei berjalan di trotoar jalan raya aku terkaget mendengar bunyi klakson di belakang kami. Sejujurnya aku sudah sering mengalami hal ini (mengalah untuk motor melintas di trotoar). Namun sekarang aku benar-benar muak dengan kejadian ini.

            “Tiiiiiid… Tiiid…”
            “Zarah minggir sini nanti kamu ketabrak” Mei menarik lenganku agar aku bisa memberi jalan untuk pengendara itu.
            “Tiid tiid.. tiid tiid..”

Klakson itu semakin sering berbunyi di belakang. Aku tak tahan lagi dengan ulah pengendara itu. Aku tak memerdulikan teriakan Mei yang menyuruhku menepi. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku di satu titik, di saat itu. Aku membalikan tubuhku tanpa menepi.

“Maaf pa, ada apa ya ?”
“Kkamu ga liat saya mau lewat ? Minggir ! Mau celaka kamu ?”
“Maaf pa, ini trotoar bukan jalan raya. Ini tempat pejalan kaki jadi saya berhak jalan disini.”
“Kamu anak kemaren sore udah berani ceramahin orang tua, duluan saya liat matahari. Cepet minggir !” Teriakan bapak itu memancing para pejalan lain untuk berhenti, melihat situasi itu aku ingin memberi hukuman sosial pada bapak itu. Aku yakin jika aku dicelakai, para pejalan kaki tidak akan tinggal diam. Untuk itu saya balas teriakannya dengan teriakan khas anak kecil.
“Maaf pa. saya emang anak kemarin sore. Tapi apa ada jaminan kalo orang yang lebih dulu liat matahari punya etika lebih baik dari anak 10 tahun ?” Para pejalan lain mulai mencibir si pengendara itu bahkan ada yang membentaknya.
“Pa, bapa punya rasa malu ga ? itu anak kecil yang ngomong. Uadah tua ga mau di kasih tau. Sadar pa ! ini tempat buat pejalan kaki.” Sempat terjadi adu mulut di trotoar. Tapi para pejalan kaki semakin banyak yang berhenti untuk sekedar menonton dn memberi hukuman sosial.
“Sekarang bapakturun ke jalan dan puter balik ! ini jalanan searah ! cepat sebelum kita lapor polisi !” Dengan muka memerah bapak itu tergesa menurunkan motornya ke jalan raya. Entah karena marah atau malu. Tapi aku yakin ia merasakan keduanya.

Trotoar mulai melengang seperti biasa setelah adu mulut selesai. Sedikit memberi hukuman sosial kepada pelanggar. Aku tersenyum atas tindakanku yang berhasil menggagalkan pelanggar untuk terus berkendra di trotoar. Meskipun itu bukan sepenuhnya tindakanku. Bapak yang membentak pelangar tadi menghampiriku dan mengajakku jalan bersama.


“Dek, kamu mau berangkat sekolah kan ? Ayo bareng aja sama om. Kebetulan kantor om juga searah sama sekolah kamu.”
“Iya om, ayo.” Tunggu… Mei ??? Dimana dia ??? A’ku menengok kiri-kanan untuk mencarinya. Ia tidak ada.
“Kamu nyari siapa dek ?”
“Temen aku om, tadi aku berangkat berdua.”
“Loh ko bisa ga ada?”
“Ga tau om tadi pas ada rame-rame itu aku ga ngeh sama dia. Bentar om aku nyari dia dulu.” Aku pergi ke belakang ke tempat kejadian tadi dan mencari Mei.
“Meeeei.. Meeei…”
“Iya Zarah, aku disini tolongin aku !” Mei ? dimana dia ? Aku mencari asal suara itu dan aku menemukannya di.. “gerobak sampah” ????
“Mei ? Kamu ngapain disitu ?” Aku tak tahan menahan tertawaku. Aku terbahak melihatnya berjongkok di dalam gerobak samapah. Maaf Mei, bukan aku jahat menertawakan tingkahmu. Hahahaha.
“Aku takut Zarah. Makannya aku ngumpet disisni.” Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Matanya berkaca-kaca. Tapi aku tetap menenrtawakannya. Hahahaha
“Haha. Ga apa-apa Mei. Ayo kita berangkat, udah siang.”
“Iya, tapi bantuin aku dulu !” ___________
“Dek, jadi bareng om ga ? Udah siang loh.”
“Iya om, ayo.”

Ada apa dengan orang-orang di negeri ini ? Selama aku bvepergian dengan ayahku, seringkali aku menemukan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di jalanan. Entah itu motor atau mobil. Aku sering sekali memergokinya di lampu lalu lintas. Ayahku seorang yang cerda, berwawasan luas. Apa saja yang menurutnya harus aku ketahui pasti ia sampaikan.. tentu dengan gaya dongeng yang menarik. Ayah pernah bercerita tentang traffic light. Intinya adalah merah=berhenti, kuning=hati-hati dan hijau=jalan. Sering para pengendara keliru akan arti lampu-lampu itu dan mereka tidak mengetahuinya secara mendetail tentang tiga warna lampu itu. Seperti contoh di lampu kuning. Sebenarnya saat lampu kunig menyala dan akan berganti lampu merah, para pengendara harus mulai mengerem kendaraan mereka. Tapi kenyataan yang terjadi disini adalah ; saat lampu kuning menyala dan akan berganti lampu merah, mereka malah menancap gas untuk menghindari lampu merah. Belum lagi hak pejalan kaki di zebra cross. Kendaraan berhenti di tengah garis dan bahkan melewati zebra cross tersebut sehingga menyulitkan para pejalan kaki untuk menyeberang. Sungguh ironi negeriku.


“O iya. Nama kamu siapa ? Nama om Wahyu.”
“Aku Zarah om, ini temen aku Mei.”
“Wah kayak tokoh novelnya Dewi Lestari ya.”
“Ga tau om, mungkin iya.”
“Om bangga sama kamu Zarah. Kamu anak perempuan yang berani.” Om Wahyu menepuk pundakku. Mungkin ini rasanya bangga pada diri sendiri atas apa yang telah dilakukan mendapat apresiasi dari orang lain. Aku sangat senang.
“Nggak om, aku cuma kesel banget sama orang yang suka langgar peraturan di jalan. Dan ibu aku meninggal karena kecerobohan orang yang kayak gitu om. Itu alesannya aku ngelawan bapak-bapak itu.”
“Ibu kamu udah ga ada Zarah ? Om turut berduka ya.”
“Iya om, makasi. Kalo om sendiri gimana kalo bawa motor ?
“Kalo om … ummm gimana ya ? Mungkin om bisa dibilang cukup patuh sama peraturan lalu lintas. Om ga bakalan ngelakuin hal yang ngerugiin orang lain dan pastinya om sendiri. Om pake helm, motor om lengkap dengan kaca spionnya dan knalpot standar. Om ga suka memodofikasi motor aneh-aneh. Bikin orang kesel. Om juga punya SIM. Om udah punya keluarga, om pasti hati-hati dalam perjalanan. Om pasti di tumggu sama keluarga om di rumah dan om ga mau buat mereka kecewa dan khawatir. Untuk itu om ga mau bahayain diri om di jalan. Begitu juga yang seharusnya di lakukan orang lain. Contohnya kamu ; kalaupun kamu belum punya keluarga sendiri tapi kamu masih punya ayah dan ayah kamu pasti sayang sama kamu dan ga bakalan mau kamu kenapa-kenapa. Kamu jangan kecewain ayah kamu ya Zarah !”
“Iya om. Akujuga pengennya semua masyarakat sadar keselamatan kayak om.”
“Semoga ya Zarah. Kita mulai dari diri sendiri aja dulu. Udah mau jam masuk sekolah. Kalian masuk gih, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”
“Iya om, makasi ya. Salam buat keluarga om.”

Ucapan om Wahyu itu sangat benar. Keluarga menunggu di rumah, mereka sangatkhawatir dengan anggota keluarganya dan mereka ingin anggota keluarganya selamat. Tapi sangat di sayangkan ribuan nyawa melayang karena ketidakpedulian dan kecerobohan. Peraturan disini dibalas dengan keacuhan.
Akhirnya ayahku tahu cerita kejadian kemari pagi dari tante Maya : ibunya Mei. Ayahku membenarkan tindakanku tapi ia berpikir belum saatnya dengan usiaku saat ini. Dan hari ini aku di antar kesekolah oleh ayahku. Yah sangat patuh dalam peraturan berkendara. Ia memakai helm, begitu juga denganku. Motor ayah juga nyaman, tidak membuat telinga orang lain sakit. Motor ayah lengkap dengan kaca spionnya. Ayah memiliki SIM dari usianya 18 tahun dari ia belum memiliki sepeda motornya sendiri. Ayah sadar ia harus memiliki SIM meskipun ia tidak memiliki kendaraan sendiri. Ia pasti ada kepentingan yang mengharuskannya untuk berkendara dan kendaraan bisa meminjang ke teman atau saudaranya.

Nyaman dan tak ada kekhawatiran saat aku di bonceng ayah. Ia tidak berkendara dengan tergesa, mematuhi lampu lalu lintas dan mmberi kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang di zebra cross. Di tengah perjalanan ada razia yang di lakukan oleh kepolisian setempat untuk memeriksa kelengkapan kendaraan dan surat-suratnya.

“Selamat pagi, pak.”
“Pagi pa.”
“Maaf telah mengganggu perjalanannya. Maaf bisa perlihatkan SIM dan STNK nya ?”
“Silahkan pa.” Ayahku sangat sopan kepada petugas, termasuk pada semua orang yang ia jumpai. Sambil melihat surat-surat ayah, petugas juga memerhatikan kelengkapan motor ayah secara fisik dan aku yakin tak ada cacat disana.
“Baikla pak, anda berkendara dengan baik dan memenuhi aturan berkendara. Maaf atas gangguannya, semoga selamat sampai tujuan dan selamat pagi pak.”
“Siap, pa. terimakasih.”

Setelah ayah memasukkan surat-suratnya kami melanjutkan perjalanan ke sekolah. Dalam razia itu aku melihat beberapa pengendara yang beberapa di antaranya adalah anak di bawah umur yang mendapat surat tilang dari petugas. Sungguh di sayangkan karena mereka tidak tahu betapa nyamannya berkendatra dengan aturan dan tanpa kekurangan apapun di kendaraan. Keselamatan sangat terjamin selama kita punya etika dalam berkendara. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia karena hambatan saat ada razia di perjalanan.tapi keselamatan adalah hal yang paling penting dalam urusan berkendara. Keselamatan sangat tak ternilai harganya. Karena om wahyu penah berkata padaku ; “keluarga kita menunggu di rumah. Jadi, berhati-hatilah saat berkendara.”
Terimakasih ayah, aku beruntung mempunyai ayah sepertimu yang telah mengajariku segala hal yang harus aku lakukan dalam hidup ini untuk menjadi seorang yang bijak.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

    Choose :
  • OR
  • To comment
Tidak ada komentar:
Write komentar