Kembang Api Untuk Ibu
"Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari
dunia"
Mungkin malam ini aku tidak
menyenangkan untuk kalian. Aku tidak merasakan kehangatan riuh pesta dan
letusan kembang api di atap gedung ini. Seharusnya aku menikmati acara pesta
yang susah payah ku adakan untuk selebrasi keberhasilan tender perusahaan ini.
Tetapi semua suara hilang, Bir yang dicipratkan di lengan kiriku hanya
menambah dingin yang ku rasakan.
"Za, ga ikutan
nyalain kembang apinya ?"
"Iya duluan aja mas. Masih ada urusan dikit lagi."
Kembang api. Satu hal yang membuatku
bahagia dan menangis dibuatnya. Ibuku sangat menyukai beragam warna di langit
dari letusan kembang api. Dan ini kembali membawaku ke masa dimana aku baru
duduk di sekolah menengah pertama.
“Mah udah malem. Ngapain di luar ?
Masuk yu mah dingin. Nanti masuk angin.”
"Kamu masuk bawa jaket dua
kesini ya !"
"Buat apa mah ?"
"Udah ambil aja !" Tak
biasanya ibu duduk di balkon setelah pulang tatawih.
"Ini mah jaketnya. Mau dipake
dua duanya mah ? Rakus banget. Hehe."
"Ya nggak juga Za. Mama pake
satu, nih kamu pake satu lagi !" Apa ibu akan mengajak keluar rumah ?
Biasanya pergi ke tempat bibi ku untuk sekedar berbincang. "Sini duduk
deket mama ! Liat deh di atas ! Mama suka banget liat kembang api Za. Apalagi
kalo bukan ramadhan kan banyak yang nyalain kembang apinya."
"Oooh kembang api. Kirain mau
ngajak kemana gitu. Ya udah besok pulang sekolah aku beli kembang api mah.
Nanti kita nyalain disini. Kan bagus ga ada pepohonan."
"Jangan Za. Kalo kita yang beli
ga asik jadinya. Tau ga seorang pelukis bikin lukisan buat siapa ? Buat
dinikmati sama orang yang kagum sama karyanya dia. Kalo pelukisnya sendiri cuma
ngerasa bangga karyanya dikagumi orang Za. Jadi tau kan maksud mama apa ? Mama
cuma pengen liat aja sama nikmatin warnanya. Temenin aja mama disini bentar lagi
juga abis kembang apinya. O iya gimana sekolah kamu Za ?”
“Biasa mah kalo bulan ramadhan
kegiatan belajar agak berkurang. Apalagi ekkstrakulikulernya.
“Baik-baik ya kamu belajar ! mama
pengen liat kamu sukses. Tapi inget kesuksesan itu bukan hanya dalam hal materi
loh. Kamu udah bisa gerakin masyarakat buat sadar lingkungan aja salah satu kesuksesan
Za.”
"Iya mah, buat aku materi itu
nomor sekian. Iya sih materi bisa bikin hidup nyaman tapi kebahagiaan bukan
cumabdari materi kan mah. Buktinya mama bisa seneng cuma liat kembang api kan?"
"Hehe. Pinter banget kamu
Za." Kebiasaan ibu selalu mengibas-kibaskan rambutku dengan lengannya. Aku
merasa sosok ibuku sepenuhnya ada dalam diriku. Mungkin aku adalah salah satu
anak yang paling beruntung memiliki seorang ibu seperti beliau. Beliau yang mengajariku
arti sebuah kehidupan. Ia juga berperan untuk mengajariku dalam hal religius.
Ledakan kembang api saling bersautan
di atas kepala kami dan ada juga yang jauh dari pandangan. Hanya terlihat
bercak dan gema dari letusan kembang api disana. Lamunan tentang masa senja
yang diharapkan ibuku mengalir lewat cerita seiring dengan irama ledakan
disekitar kami.
***
Hari raya tinggal menghitung hari dan
teman-temanku sudah membicarakan tentang pakaian hari raya. Sebuah tradisi di
perkampungan jika pada hari raya semua anak memakai pakaian baru. Mungkin
beberapa sudah memiliki beberapa pasangnpakaian baru.
“Mah yang lain udah beli baju buat
hari raya. Kalo aku kapan mah ?”
"Baju baru ya ? Yah.. sekarang mama belum punya uang Za.
Bapak juga pulang pas malam takbir. Sabar dulu ya Za. Nanti kalo ada rezeki
mama beliin."
"Tapi kapan mah ? Masa tahun ini aku ga beli baju
baru."
"Kan baju-baju kamu juga masih pada bagus Za. Kamu tidur
dulu ya. Udah malem. Nanti telat sahur loh."
Tak habis ku menggerutu malam ini
sampai-sampai aku membanting pintu kamarku.
Aku dibangunkan ibu untuk makan sahur. Tak sepatah kata pun ku ucapakan kepada ibu. Aku masih merasa kesal karena hal salam tadi. Saat makanpun aku hanya diam dan menjawab pertanyaan ibu dengan seperlunya "iya dan tidak" dan hanya menghabiskan makananku dengan cepat lalu menunggu subuh untuk melanjutkan tidur.
Aku dibangunkan ibu untuk makan sahur. Tak sepatah kata pun ku ucapakan kepada ibu. Aku masih merasa kesal karena hal salam tadi. Saat makanpun aku hanya diam dan menjawab pertanyaan ibu dengan seperlunya "iya dan tidak" dan hanya menghabiskan makananku dengan cepat lalu menunggu subuh untuk melanjutkan tidur.
"Riza. Udah siang, emang sekolah
udah libur ?" Aku beranjak dari tempat tidur tapi bukan untuk mandi dan
berangkat ke sekolah. Aku berniat mogok sekolah sampai aku dibelikan baju untuk
hari raya. Aku hanya menonton acara kartun kesukaanku sejak kecil. Sebuah busa
dan temannya seekor bintang laut.
"Loh Za kenapa ga cepet mandi ? Udah siang juga."
"Males ke sekolah ah." Aku
hanya menjawabnya dengan singkat dan acuh. Terlihat raut wajah ibu seketika
menjadi sedih. Sebenarnya aku juga tidak mau membuat ibu sedih. Tapi mungkin
ego anak-anak masih kental dalam diriku.
"Ya udah ga usah sekolah. Di
paksa juga ga bakalan bener. Mama hari ini mau keluar. Tolong jaga rumah jangan
kemana-mana. Mama pulang agak sorean ya." Tanpa menjawab aku merebahkan
tubuhku di kursi dan asik menonton.
Lama-lama aku merasa bosan dengan suasana
rumah yang sepi. Aku jadi menyesal kenapa aku tidak berangkat ke sekolah. Aku
hanya terbaring dan tak terasa adzan dzuhur telah berkumandang. Aku memaksakan
tubuhku untuk bangun dan mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan ibadah
mataku mulai terasa berat.
Ketika aku terbangun ibu sudah berada
di rumah. Rupanya ia pergi ke kota untuk membelikanku pakaian baru. Air muka
ibu sangat senang melihatku sangat antusias membongkar belanjaannya.
***
Kembali ibu duduk di balkon sepulang tarawih. Aku membawakannya
jaket dan segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya di malam yang dingin
ini. Ibu menengadah ke atas melihat lagit yang mendung dan tanpa bintang.
"Mah. Sekarang ga ada kembang
api. Langit juga mendung, masuk yu mah."
"Iya Za. Padahal malem ini mama
pengen liat kembang api. Tapi sayangnya ga ada yang nyalain."
Aku ingat ada warung di dekat
rumahbyang menjual kembang api. Mungkin sekarang masih buka. Aku ingin
membelikan ibu kembang api. Ternyata kembang api yang di tembakan ke langit
sudah habis terjual. Mungkin ini sebabnya tak ada kembang api malam ini. Hanya
tersisa kembang api kecil untuk dipegang. Nafasku terengah-engah sesampainya
aku di rumah karena berlari menghindari gerimis yang mulai turun.
"Kamu darimana Za ngos-ngosan
gitu ?" Nafasku masih tersenggal senggal sambil memegangi gagang pintu dan
mencondongkan tubuhku
"Dari warung mah. Mah aku punya
kembang api tapi kecil. Kita nyalain mah ya."
Ya ampun Zaaa. Kamu lari-larian buat beli kembang api doang ? Maksi ya Za. Yanudah kita nyalain Za."
Ya ampun Zaaa. Kamu lari-larian buat beli kembang api doang ? Maksi ya Za. Yanudah kita nyalain Za."
Ibu sangat senang melihat kembang api
yang kunyalakan. Akupun ikut senang melihat ibu bahagia. Beberapa kembang api
telah habis dibakar dan hanya tersisa satu batang.
"Yah. Mah ini tinggal yang
terakhir."
"Ya udah ga apa-apa Za nyalain
aja ! Terus kita masuk ke dalem. Ujannjuga mulai deres"
Setelah kembang api terbakar habis
kami masuk kedalam untuk membuatbteh hangat dan mengobrol.
Aku melihat tangannya yangbtak lagi
kencang. Alur garis telah mendominasi permukaan kulitnya. Sebuah goresan dari
kehidupan yangvtelah dijalaninya. Begitu banyak bab kehidupan yangvtelah
dilewatinya. Pahit, manis, asam, garam telah mendarah daging menjadi sebuah
kisah pelajaran yang sudah di pilah menjadi baik dan buruknya suatu kehidupan.
Betapa tangan yang telah melemah ini begitu tegar dimasanya. Tangan ini yang
telah merawat dan membesarkanku serta kakak-kakakku. Tangan ini tak pernah mau
memerdulikann rasa panas karena wajan untuk memasak dan mencuci atau sakit
tertusuk jarum untuk sekedar menjahit baju anak-anaknya yang sobek. Kotor tak
menjadi halangan untuk melindungi anaknya. Tak pernah merasa jijik saat anaknya
yang masih balita pipis di pangkuannya atau membersihkan kotoran.
***
Aku memindahkan kursi panjang dan
menjauhkan dari riuh pesta di atap gedung ini.bterbaring menikmati indah bercak
warna dari letusan kembang api. Sama seperti yang aku dan ibuku lakukan dulu.
Sebentar lagi adalah hari ibu.
Beberapa anak pasti sudah memersiapkan hadiah atau kejutan untuk ibu mereka.
Terkadang aku berpikir tuhan tak adil kepadaku. Mengapa tuhan memanggil ibu
begitu cepat ? Melewati hari demi hari tanpa sosok seorang ibu, itu sangat
membuatku sedih.
Ibu adalah orang pertama yang ingin aku bahagiakan ketika aku dewasa sekaligus jadi motivasi terbesarku untuk tetap semangat menjalani hidup. Dan sekarang ? Tak ada hal yang mendorongku untuk itu. Tak ada tujuan untuk hasilku. Mungkin air mataku sudah lama kering, diperas pada saat ibu meninggalkanku, meninggalkan ayah dan kakak-kakakku. Tapi hatiku masih terus menangis dan menjerit.
Ibu adalah orang pertama yang ingin aku bahagiakan ketika aku dewasa sekaligus jadi motivasi terbesarku untuk tetap semangat menjalani hidup. Dan sekarang ? Tak ada hal yang mendorongku untuk itu. Tak ada tujuan untuk hasilku. Mungkin air mataku sudah lama kering, diperas pada saat ibu meninggalkanku, meninggalkan ayah dan kakak-kakakku. Tapi hatiku masih terus menangis dan menjerit.
Sekarang tak ada lagi yang
membangunkanku jika sewaktu-waktu aku terlambat. Tak ada ibu saat pengambilan
buku laporan di SMA. Tak ada sosok ibu untuk pelepasan masa SMA ku. Tak ada ibu
dalam foto wisudaku. Tak ada lagi hari ibu di sisa kehidupanku. Tak ada tujuan
untukku pulang sekedar melepas rindu atau meminta maaf pada ibu. Tak ada ibu
yang mendampingiku di hari pernikahanku. Anakku tak pernah mengenal neneknya
selain dari foto atau cerita dariku. Semua itu sngat tidak menyenangkan. Hidup
ini terasa sangat berbeda dari kebanyakan orang.
·
“Mah,
kalo nanti aku pulang mamah mau minta di beliin apa ? Soto ya mah.”
·
“Mah,
nanti kita jalan-jalan ya. Tapi nunggu aku gajian, hehe.”
·
“Mah,
ini aku beli handphone lagi, buat mamah aja yabiar ntar nelpon ga usah lewat
orang lagi, ntar aku ajarin make nya mah ya.”
·
“Mah,
alhamdulillah aku udah makan, mamah jangantelat makan ya mah.”
·
“Mah,
maaf bulan ini aku ga pulang, soalnya aku maujalan-jalan. Ntar kalo ada rezeki
lagi aku ajak mamah ya, sehat-sehat mah ya.”
·
“Mah,
udah beli baju lebaran belum ? Kalo belum ntarbareng aku aja belinya ya.”
·
“Mah
kenalin ini pacar aku ****. Cantik mah ya.”
·
“Mah.
Cucu mamah kangen nih, insyaallah kita lusa ke rumah ya mah.”
·
“Mamaaaaah.
Alhamdulillah tabungan aku udah cukup untuk mamah sama bapa pergi umroh, di
siapin segala sesuatunya ya mah.”
·
“Mah.
Maaf lahir batin ya. Maaf semua kesalahan akusama keluarga kecil aku.”
·
“Mah,
mamah sakit ? Ntar aku minta cuti mah, besok aku kesana ya.”
·
“Mah
aku ga enak badan, mamah gimana kabarnya ? Aku pengen di kompres sama mamah
lagi.”
Percakapan ini yang aku harapkan
ketika aku telah dewasa. Dan sekarang aku sudah beranjak dewasa tapi tuhan
berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi beliau. Maaf ibu aku tak sempat
membahagiakanmu.
"Mah, semoga apa yang aku lihat
malam ini bisa terlihat juga olehmu dan memberimu kebahagiaan. Sekarang banyak
sekali kembang api yang sedang kilihat dan penuh warna. Baik-baik disana mah.
Tak hanya di hari ibu aku memberimu kado. Lima kali dalam satu hari di waktu
yang sama aku selalu mengirimkan kado untukmu dan kado spesial di kamis malam
setiap minggunya. Aku menyayangimu. Peluk cium _anakmu."
*Note*
Gunakan kesempatan yang diberikan tuhan kepadamu. Bahagiakan ibumu sekarang juga sebelum ia dipanggil olehNya.
Gunakan kesempatan yang diberikan tuhan kepadamu. Bahagiakan ibumu sekarang juga sebelum ia dipanggil olehNya.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti
Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co
Tidak ada komentar:
Write komentar