Piatu Pemberani
Setelah
mengikat tali sepau aku berpamitan kepada ayah untuk berangkat ke sekolah. Har ini
Aku menolak di antar ayah ke sekolah karena ia sangat terlihat sibuk dari
semalam. Dengan jadwal pemotretannya, merapikan rumah, menyapu halaman dan
menyiapkan sarapan untukku. Belum lagi ia harus mengantarku pergi ke sekolah.
“Ayah,
aku berangkat ya.”
“Iya Zarah, sebentar ayah ambil
kunci dulu.”
“Ga apa-apa yah. Aku kan udah biasa
sendiri kalo ayah ke luar kota.”
“Tapi kan sekarang ayah ada di rumah.”
“Ga apa-apa yah, aku berangkat
sendiri aja. Aku kan udah mau kelas lima. Aku harus belajar mandiri yah.”
“Kamu yakin ?”
“Iya yah. Aku pamit ya.”
“Ya udah kamu hati-hati ya nak. Kalo
ada apa-apa di sekolah minta tolong aja sama bu guru buat telepon ke ayah.”
“Iya yah. Daah…”
Aku tidak mau merepotkan ayah. Ayah sudah
terlalu sibuk dengan rutinitasnya. Sejakibu meninggal, ayah menjadi dua sosok dalam
kehidupanku. Tegas, melindungi, menafkahi sebagai ayah dan penyayang, resik
serta memasak sebagai ibu. Aku beruntung mempunyai ayah seperti itu. Lagipula jika
ayah sedang melakukan pemotretan di luar kota aku sering melakukan semua hal
sendiri. Dari mulai terbangun sendiri, merapikan tempat tidurku, memanggang
roti untuk sarapanku dan membawa kunci rumahku sendiri. Ayah juga yang
mengajariku semua itu.
“Permisi… Permisi…”
“Ya sebentar… Eh Zarah, ga di anter
sama ayah ?”
“Enggak tante. Mei udah berangkat ?”
“Belum ko. Mei masih pake sepatu di
dalam, tunggu sebentar ya.”
“Hai Zarah, yuk berangkat.” Mei keluar
dengan tergesa dan lansung mengajakku pergi.
“Kamu ga pamit dulu sama mama kamu ?”
“Ga usah ah, lama. Yuk berangkat.”
“Tante kita berangkat ya.” Mungkin Mei
belum merasakan bagaimana berartinya kecupan di punggung tangan orang tua jika
itu yang menjadi yang terakhir.
Saat
aku dan Mei berjalan di trotoar jalan raya aku terkaget mendengar bunyi klakson
di belakang kami. Sejujurnya aku sudah sering mengalami hal ini (mengalah untuk
motor melintas di trotoar). Namun sekarang aku benar-benar muak dengan kejadian
ini.
“Tiiiiiid… Tiiid…”
“Zarah minggir sini nanti kamu
ketabrak” Mei menarik lenganku agar aku bisa memberi jalan untuk pengendara itu.
“Tiid tiid.. tiid tiid..”
Klakson
itu semakin sering berbunyi di belakang. Aku tak tahan lagi dengan ulah
pengendara itu. Aku tak memerdulikan teriakan Mei yang menyuruhku menepi. Aku mencoba
mengumpulkan keberanianku di satu titik, di saat itu. Aku membalikan tubuhku
tanpa menepi.
“Maaf
pa, ada apa ya ?”
“Kkamu
ga liat saya mau lewat ? Minggir ! Mau celaka kamu ?”
“Maaf
pa, ini trotoar bukan jalan raya. Ini tempat pejalan kaki jadi saya berhak
jalan disini.”
“Kamu
anak kemaren sore udah berani ceramahin orang tua, duluan saya liat matahari. Cepet
minggir !” Teriakan bapak itu memancing para pejalan lain untuk berhenti,
melihat situasi itu aku ingin memberi hukuman sosial pada bapak itu. Aku yakin
jika aku dicelakai, para pejalan kaki tidak akan tinggal diam. Untuk itu saya
balas teriakannya dengan teriakan khas anak kecil.
“Maaf
pa. saya emang anak kemarin sore. Tapi apa ada jaminan kalo orang yang lebih
dulu liat matahari punya etika lebih baik dari anak 10 tahun ?” Para pejalan
lain mulai mencibir si pengendara itu bahkan ada yang membentaknya.
“Pa,
bapa punya rasa malu ga ? itu anak kecil yang ngomong. Uadah tua ga mau di
kasih tau. Sadar pa ! ini tempat buat pejalan kaki.” Sempat terjadi adu mulut
di trotoar. Tapi para pejalan kaki semakin banyak yang berhenti untuk sekedar
menonton dn memberi hukuman sosial.
“Sekarang
bapakturun ke jalan dan puter balik ! ini jalanan searah ! cepat sebelum kita
lapor polisi !” Dengan muka memerah bapak itu tergesa menurunkan motornya ke jalan
raya. Entah karena marah atau malu. Tapi aku yakin ia merasakan keduanya.
Trotoar
mulai melengang seperti biasa setelah adu mulut selesai. Sedikit memberi
hukuman sosial kepada pelanggar. Aku tersenyum atas tindakanku yang berhasil
menggagalkan pelanggar untuk terus berkendra di trotoar. Meskipun itu bukan
sepenuhnya tindakanku. Bapak yang membentak pelangar tadi menghampiriku dan
mengajakku jalan bersama.
“Dek,
kamu mau berangkat sekolah kan ? Ayo bareng aja sama om. Kebetulan kantor om
juga searah sama sekolah kamu.”
“Iya
om, ayo.” Tunggu… Mei ??? Dimana dia ??? A’ku menengok kiri-kanan untuk
mencarinya. Ia tidak ada.
“Kamu
nyari siapa dek ?”
“Temen
aku om, tadi aku berangkat berdua.”
“Loh
ko bisa ga ada?”
“Ga
tau om tadi pas ada rame-rame itu aku ga ngeh sama dia. Bentar om aku nyari dia
dulu.” Aku pergi ke belakang ke tempat kejadian tadi dan mencari Mei.
“Meeeei..
Meeei…”
“Iya
Zarah, aku disini tolongin aku !” Mei ? dimana dia ? Aku mencari asal suara itu
dan aku menemukannya di.. “gerobak sampah” ????
“Mei
? Kamu ngapain disitu ?” Aku tak tahan menahan tertawaku. Aku terbahak
melihatnya berjongkok di dalam gerobak samapah. Maaf Mei, bukan aku jahat
menertawakan tingkahmu. Hahahaha.
“Aku
takut Zarah. Makannya aku ngumpet disisni.” Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Matanya
berkaca-kaca. Tapi aku tetap menenrtawakannya. Hahahaha
“Haha.
Ga apa-apa Mei. Ayo kita berangkat, udah siang.”
“Iya,
tapi bantuin aku dulu !” ___________
“Dek,
jadi bareng om ga ? Udah siang loh.”
“Iya
om, ayo.”
Ada
apa dengan orang-orang di negeri ini ? Selama aku bvepergian dengan ayahku,
seringkali aku menemukan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di jalanan. Entah
itu motor atau mobil. Aku sering sekali memergokinya di lampu lalu lintas. Ayahku
seorang yang cerda, berwawasan luas. Apa saja yang menurutnya harus aku ketahui
pasti ia sampaikan.. tentu dengan gaya dongeng yang menarik. Ayah pernah
bercerita tentang traffic light. Intinya adalah merah=berhenti, kuning=hati-hati
dan hijau=jalan. Sering para pengendara keliru akan arti lampu-lampu itu dan
mereka tidak mengetahuinya secara mendetail tentang tiga warna lampu itu. Seperti
contoh di lampu kuning. Sebenarnya saat lampu kunig menyala dan akan berganti
lampu merah, para pengendara harus mulai mengerem kendaraan mereka. Tapi kenyataan
yang terjadi disini adalah ; saat lampu kuning menyala dan akan berganti lampu
merah, mereka malah menancap gas untuk menghindari lampu merah. Belum lagi hak
pejalan kaki di zebra cross. Kendaraan berhenti di tengah garis dan bahkan
melewati zebra cross tersebut sehingga menyulitkan para pejalan kaki untuk
menyeberang. Sungguh ironi negeriku.
“O
iya. Nama kamu siapa ? Nama om Wahyu.”
“Aku
Zarah om, ini temen aku Mei.”
“Wah
kayak tokoh novelnya Dewi Lestari ya.”
“Ga
tau om, mungkin iya.”
“Om
bangga sama kamu Zarah. Kamu anak perempuan yang berani.” Om Wahyu menepuk
pundakku. Mungkin ini rasanya bangga pada diri sendiri atas apa yang telah
dilakukan mendapat apresiasi dari orang lain. Aku sangat senang.
“Nggak
om, aku cuma kesel banget sama orang yang suka langgar peraturan di jalan. Dan ibu
aku meninggal karena kecerobohan orang yang kayak gitu om. Itu alesannya aku
ngelawan bapak-bapak itu.”
“Ibu
kamu udah ga ada Zarah ? Om turut berduka ya.”
“Iya
om, makasi. Kalo om sendiri gimana kalo bawa motor ?
“Kalo
om … ummm gimana ya ? Mungkin om bisa dibilang cukup patuh sama peraturan lalu
lintas. Om ga bakalan ngelakuin hal yang ngerugiin orang lain dan pastinya om
sendiri. Om pake helm, motor om lengkap dengan kaca spionnya dan knalpot
standar. Om ga suka memodofikasi motor aneh-aneh. Bikin orang kesel. Om juga
punya SIM. Om udah punya keluarga, om pasti hati-hati dalam perjalanan. Om pasti
di tumggu sama keluarga om di rumah dan om ga mau buat mereka kecewa dan
khawatir. Untuk itu om ga mau bahayain diri om di jalan. Begitu juga yang
seharusnya di lakukan orang lain. Contohnya kamu ; kalaupun kamu belum punya
keluarga sendiri tapi kamu masih punya ayah dan ayah kamu pasti sayang sama
kamu dan ga bakalan mau kamu kenapa-kenapa. Kamu jangan kecewain ayah kamu ya
Zarah !”
“Iya
om. Akujuga pengennya semua masyarakat sadar keselamatan kayak om.”
“Semoga ya Zarah. Kita mulai dari diri sendiri aja dulu. Udah mau jam masuk
sekolah. Kalian masuk gih, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”
“Iya
om, makasi ya. Salam buat keluarga om.”
Ucapan
om Wahyu itu sangat benar. Keluarga menunggu di rumah, mereka sangatkhawatir
dengan anggota keluarganya dan mereka ingin anggota keluarganya selamat. Tapi sangat
di sayangkan ribuan nyawa melayang karena ketidakpedulian dan kecerobohan. Peraturan
disini dibalas dengan keacuhan.
Akhirnya
ayahku tahu cerita kejadian kemari pagi dari tante Maya : ibunya Mei. Ayahku membenarkan
tindakanku tapi ia berpikir belum saatnya dengan usiaku saat ini. Dan hari ini
aku di antar kesekolah oleh ayahku. Yah sangat patuh dalam peraturan
berkendara. Ia memakai helm, begitu juga denganku. Motor ayah juga nyaman,
tidak membuat telinga orang lain sakit. Motor ayah lengkap dengan kaca spionnya.
Ayah memiliki SIM dari usianya 18 tahun dari ia belum memiliki sepeda motornya
sendiri. Ayah sadar ia harus memiliki SIM meskipun ia tidak memiliki kendaraan
sendiri. Ia pasti ada kepentingan yang mengharuskannya untuk berkendara dan
kendaraan bisa meminjang ke teman atau saudaranya.
Nyaman
dan tak ada kekhawatiran saat aku di bonceng ayah. Ia tidak berkendara dengan
tergesa, mematuhi lampu lalu lintas dan mmberi kesempatan pejalan kaki untuk
menyeberang di zebra cross. Di tengah perjalanan ada razia yang di lakukan oleh
kepolisian setempat untuk memeriksa kelengkapan kendaraan dan surat-suratnya.
“Selamat
pagi, pak.”
“Pagi
pa.”
“Maaf
telah mengganggu perjalanannya. Maaf bisa perlihatkan SIM dan STNK nya ?”
“Silahkan
pa.” Ayahku sangat sopan kepada petugas, termasuk pada semua orang yang ia jumpai.
Sambil melihat surat-surat ayah, petugas juga memerhatikan kelengkapan motor
ayah secara fisik dan aku yakin tak ada cacat disana.
“Baikla
pak, anda berkendara dengan baik dan memenuhi aturan berkendara. Maaf atas
gangguannya, semoga selamat sampai tujuan dan selamat pagi pak.”
“Siap,
pa. terimakasih.”
Setelah
ayah memasukkan surat-suratnya kami melanjutkan perjalanan ke sekolah. Dalam razia
itu aku melihat beberapa pengendara yang beberapa di antaranya adalah anak di
bawah umur yang mendapat surat tilang dari petugas. Sungguh di sayangkan karena
mereka tidak tahu betapa nyamannya berkendatra dengan aturan dan tanpa
kekurangan apapun di kendaraan. Keselamatan sangat terjamin selama kita punya
etika dalam berkendara. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia karena hambatan
saat ada razia di perjalanan.tapi keselamatan adalah hal yang paling penting
dalam urusan berkendara. Keselamatan sangat tak ternilai harganya. Karena om
wahyu penah berkata padaku ; “keluarga kita menunggu di rumah. Jadi,
berhati-hatilah saat berkendara.”
Terimakasih
ayah, aku beruntung mempunyai ayah sepertimu yang telah mengajariku segala hal
yang harus aku lakukan dalam hidup ini untuk menjadi seorang yang bijak.
Blog post ini dibuat dalam rangka
mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda
Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan
Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com