Minggu, 27 Oktober 2019

20 hal ini akan membuatmu rindu masa kecil

Finally, saya kembali menulis di blog saya setelah beberapa tahun vakum dari dunia blog karena beberapa alasan. Dan juga ada beberapa alasan saya untuk kembali menulis di blog salah satunya adalah saya ingin mengabadikan isi kepala saya.

Saya akan langsung menulis apa yang saya raaakan hari ini, minggu 27 oktober 2019. Hal ini saya rasakan ketika saya bener-benar baru bangun dari hibernasi saya pukul 10.00 pagi, atau siang? Entah saya tidak dapat menentukannya. Yaa mungkin bagi sebagian orang jam 10.00 sudah siang tapi bagi makhluk nokturnal seperti saya, jam segitu masih sangat pagi.

Ketika saya bangun dan langsung melihat handphone, membuka notifikasi, dan membuka yaaaa melakukan ritual yg lain. Lalu saya membuka twitter dan melihat beberapa cuitan dan saya membaca ada yang menulis "untuk anak 90's mari bernostalgia" dan saya langsung membuka gambar-gambar yang di posting. Saya kira teman-teman semua sudah dapat menebak gambar apa yang saya lihat. Ya, permainan zaman dulu di kampung yang sering dimainkan anak angkatan 90's pada masa kecilnya. Saya senyum-senyum sendiri di kamar kost saya dan kadang tertawa sangat keras. Entah apa yang dipikirkan tetangga kamar saya dan saya tidak peduli. 

Saya senang melihat gambar-gambar yang dikirim di kolom komentar dan tentu komentar yang lucu juga banyak termasuk "anak milenial mana paham". Sebenarnya bukan salah anak milenial yang tidak tahu permainan masa kecil anak 90's tapi ada beberapa faktor yang membuat mereka tidak pernah memainkan atau bahkan tau permainan tempo doeloe. Tapi saya tidak membahas itu kali ini, jadi lupakan saja.

Jujur, ketika menulis ini saya menangis dan ingin sekali kembali ke masa kecil saya yang menyenangkan bersama sahabat-sahabat saya di kampung karena sekarang saya sedang merantau di kampung orang, bermain sampai lupa waktu bahkan sampai dimarahi orang tua. Itu menyenangkan mengingat ketika beranjak dewasa ternyata sangat menjengkelkan.

Kembali ke hari minggu. Beberapa gambar berikut ini adalah gambar yang berhasil saya kumpulkan dari internet agar ada gambaran untuk.. Yaaa mungkin ada pembaca milenial yang mampir ke blog saya. 

1. Menonton Tv bersama
https://google.com

2. Main egrang
https://www.hipwee.com

3. Main karet
https://www.dictio.id

4. Galah
https://www.wego.co.id

5. Sondah
https://kaskus.com

6. Bebeletokan

https://www.kaskus.co.id
7. Bermain di sungai

https://www.merdeka.com
8. Adu gambar

https://twitter.com
9. Main kelereng
https://www.hipwee.com

10. Petak umpet
https://www.hipwee.com

11. Oray orayan

http://beautiful-indonesia.umm.ac.id
12.  Layang-layang
https://www.idntimes.com

13. Sepak bola di sawah

https://juragancipir.com

14. Bola kasti (BoiBoiyan)
https://merahputih.com

15. Hujan-hujanan
https://www.tribunnews.com
16. Perahu kertas

http://pojokpitu.com
17. Mencari ikan di selokan
 
https://www.solopos.com
18. Masak-masakan
https://playworld.id

19. Bermain monopoli 
https://www.hipwee.com

20. Bermain ular tangga
https://www.hipwee.com

Masih sangat banyak permainan di masa kecil saya yang belum saya sebutkan di atas karena cukup capek juga ternyata kembali menulis panjang lebar :D

Saya sangat bersyukur terlahir di zaman peralihan, bisa merasakan kehidupan zaman dulu dan juga menikmati modernisasi yang telah berlangsung saat ini.bYa, saya bangga dilahirkan di kampung dan saya bangga mendapat kesempatan menjadi "tua". Meskipun begitu, saya tidak mengatakan anak" zaman sekarang dan orang kota tidak punya permainan yang asik atau mengatakan tidak mempunyai masa kecil yang indah. Sama saja hanya berbeda zaman dan tempat. Mereka punya masa kecilnya sendiri pada zamannya.
 
Ingatlah apapun kehidupan yang kalian jalani karena itu rekaman hidup kalian. Kadang melihat titik balik ke beberapa waktu yang sudah terlewati bisa membuat kita kembali tersenyum hanya dengan ingatan. Happy sunday. Have a good day

Sabtu, 12 Desember 2015

Kembang Api Untuk Ibu


Kembang Api Untuk Ibu
"Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia"
Mungkin malam ini aku tidak menyenangkan untuk kalian. Aku tidak merasakan kehangatan riuh pesta dan letusan kembang api di atap gedung ini. Seharusnya aku menikmati acara pesta yang susah payah ku adakan untuk selebrasi keberhasilan tender perusahaan ini. Tetapi semua suara hilang, Bir yang dicipratkan di lengan kiriku  hanya menambah dingin yang ku rasakan.
"Za, ga ikutan nyalain kembang apinya ?"
"Iya duluan aja mas. Masih ada urusan dikit lagi."
Kembang api. Satu hal yang membuatku bahagia dan menangis dibuatnya. Ibuku sangat menyukai beragam warna di langit dari letusan kembang api. Dan ini kembali membawaku ke masa dimana aku baru duduk di sekolah menengah pertama.
“Mah udah malem. Ngapain di luar ? Masuk yu mah dingin. Nanti masuk angin.”
"Kamu masuk bawa jaket dua kesini ya !"
"Buat apa mah ?"
"Udah ambil aja !" Tak biasanya ibu duduk di balkon setelah pulang tatawih.
"Ini mah jaketnya. Mau dipake dua duanya mah ? Rakus banget. Hehe."
"Ya nggak juga Za. Mama pake satu, nih kamu pake satu lagi !" Apa ibu akan mengajak keluar rumah ? Biasanya pergi ke tempat bibi ku untuk sekedar berbincang. "Sini duduk deket mama ! Liat deh di atas ! Mama suka banget liat kembang api Za. Apalagi kalo bukan ramadhan kan banyak yang nyalain kembang apinya."
"Oooh kembang api. Kirain mau ngajak kemana gitu. Ya udah besok pulang sekolah aku beli kembang api mah. Nanti kita nyalain disini. Kan bagus ga ada pepohonan."
"Jangan Za. Kalo kita yang beli ga asik jadinya. Tau ga seorang pelukis bikin lukisan buat siapa ? Buat dinikmati sama orang yang kagum sama karyanya dia. Kalo pelukisnya sendiri cuma ngerasa bangga karyanya dikagumi orang Za. Jadi tau kan maksud mama apa ? Mama cuma pengen liat aja sama nikmatin warnanya. Temenin aja mama disini bentar lagi juga abis kembang apinya. O iya gimana sekolah kamu Za ?”
“Biasa mah kalo bulan ramadhan kegiatan belajar agak berkurang. Apalagi ekkstrakulikulernya.
“Baik-baik ya kamu belajar ! mama pengen liat kamu sukses. Tapi inget kesuksesan itu bukan hanya dalam hal materi loh. Kamu udah bisa gerakin masyarakat buat sadar lingkungan aja salah satu kesuksesan Za.”
"Iya mah, buat aku materi itu nomor sekian. Iya sih materi bisa bikin hidup nyaman tapi kebahagiaan bukan cumabdari materi kan mah. Buktinya mama bisa seneng cuma liat kembang api kan?"
"Hehe. Pinter banget kamu Za." Kebiasaan ibu selalu mengibas-kibaskan rambutku dengan lengannya. Aku merasa sosok ibuku sepenuhnya ada dalam diriku. Mungkin aku adalah salah satu anak yang paling beruntung memiliki seorang ibu seperti beliau. Beliau yang mengajariku arti sebuah kehidupan. Ia juga berperan untuk mengajariku dalam hal religius.
Ledakan kembang api saling bersautan di atas kepala kami dan ada juga yang jauh dari pandangan. Hanya terlihat bercak dan gema dari letusan kembang api disana. Lamunan tentang masa senja yang diharapkan ibuku mengalir lewat cerita seiring dengan irama ledakan disekitar kami.
***
Hari raya tinggal menghitung hari dan teman-temanku sudah membicarakan tentang pakaian hari raya. Sebuah tradisi di perkampungan jika pada hari raya semua anak memakai pakaian baru. Mungkin beberapa sudah memiliki beberapa pasangnpakaian baru.
“Mah yang lain udah beli baju buat hari raya. Kalo aku kapan mah ?”
"Baju baru ya ? Yah.. sekarang mama belum punya uang Za. Bapak juga pulang pas malam takbir. Sabar dulu ya Za. Nanti kalo ada rezeki mama beliin."
"Tapi kapan mah ? Masa tahun ini aku ga beli baju baru."
"Kan baju-baju kamu juga masih pada bagus Za. Kamu tidur dulu ya. Udah malem. Nanti telat sahur loh."
Tak habis ku menggerutu malam ini sampai-sampai aku membanting pintu kamarku.
Aku dibangunkan ibu untuk makan sahur. Tak sepatah kata pun ku ucapakan kepada ibu. Aku masih merasa kesal karena hal salam tadi. Saat makanpun aku hanya diam dan menjawab pertanyaan ibu dengan seperlunya "iya dan tidak" dan hanya menghabiskan makananku dengan cepat lalu menunggu subuh untuk melanjutkan tidur.
"Riza. Udah siang, emang sekolah udah libur ?" Aku beranjak dari tempat tidur tapi bukan untuk mandi dan berangkat ke sekolah. Aku berniat mogok sekolah sampai aku dibelikan baju untuk hari raya. Aku hanya menonton acara kartun kesukaanku sejak kecil. Sebuah busa dan temannya seekor bintang laut.
"Loh Za kenapa ga cepet mandi ? Udah siang juga."
"Males ke sekolah ah." Aku hanya menjawabnya dengan singkat dan acuh. Terlihat raut wajah ibu seketika menjadi sedih. Sebenarnya aku juga tidak mau membuat ibu sedih. Tapi mungkin ego anak-anak masih kental dalam diriku.
"Ya udah ga usah sekolah. Di paksa juga ga bakalan bener. Mama hari ini mau keluar. Tolong jaga rumah jangan kemana-mana. Mama pulang agak sorean ya." Tanpa menjawab aku merebahkan tubuhku di kursi dan asik menonton.  
Lama-lama aku merasa bosan dengan suasana rumah yang sepi. Aku jadi menyesal kenapa aku tidak berangkat ke sekolah. Aku hanya terbaring dan tak terasa adzan dzuhur telah berkumandang. Aku memaksakan tubuhku untuk bangun dan mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan ibadah mataku mulai terasa berat.
Ketika aku terbangun ibu sudah berada di rumah. Rupanya ia pergi ke kota untuk membelikanku pakaian baru. Air muka ibu sangat senang melihatku sangat antusias membongkar belanjaannya.
***
Kembali ibu duduk di balkon sepulang tarawih. Aku membawakannya jaket dan segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya di malam yang dingin ini. Ibu menengadah ke atas melihat lagit yang mendung dan tanpa bintang.
"Mah. Sekarang ga ada kembang api. Langit juga mendung, masuk yu mah."
"Iya Za. Padahal malem ini mama pengen liat kembang api. Tapi sayangnya ga ada yang nyalain."

Aku ingat ada warung di dekat rumahbyang menjual kembang api. Mungkin sekarang masih buka. Aku ingin membelikan ibu kembang api. Ternyata kembang api yang di tembakan ke langit sudah habis terjual. Mungkin ini sebabnya tak ada kembang api malam ini. Hanya tersisa kembang api kecil untuk dipegang. Nafasku terengah-engah sesampainya aku di rumah karena berlari menghindari gerimis yang mulai turun.
"Kamu darimana Za ngos-ngosan gitu ?" Nafasku masih tersenggal senggal sambil memegangi gagang pintu dan mencondongkan tubuhku
"Dari warung mah. Mah aku punya kembang api tapi kecil. Kita nyalain mah ya."
Ya ampun Zaaa. Kamu lari-larian buat beli kembang api doang ? Maksi ya Za. Yanudah kita nyalain Za."
Ibu sangat senang melihat kembang api yang kunyalakan. Akupun ikut senang melihat ibu bahagia. Beberapa kembang api telah habis dibakar dan hanya tersisa satu batang.
"Yah. Mah ini tinggal yang terakhir."
"Ya udah ga apa-apa Za nyalain aja ! Terus kita masuk ke dalem. Ujannjuga mulai deres"
Setelah kembang api terbakar habis kami masuk kedalam untuk membuatbteh hangat dan mengobrol.
Aku melihat tangannya yangbtak lagi kencang. Alur garis telah mendominasi permukaan kulitnya. Sebuah goresan dari kehidupan yangvtelah dijalaninya. Begitu banyak bab kehidupan yangvtelah dilewatinya. Pahit, manis, asam, garam telah mendarah daging menjadi sebuah kisah pelajaran yang sudah di pilah menjadi baik dan buruknya suatu kehidupan. Betapa tangan yang telah melemah ini begitu tegar dimasanya. Tangan ini yang telah merawat dan membesarkanku serta kakak-kakakku. Tangan ini tak pernah mau memerdulikann rasa panas karena wajan untuk memasak dan mencuci atau sakit tertusuk jarum untuk sekedar menjahit baju anak-anaknya yang sobek. Kotor tak menjadi halangan untuk melindungi anaknya. Tak pernah merasa jijik saat anaknya yang masih balita pipis di pangkuannya atau membersihkan kotoran.
***
Aku memindahkan kursi panjang dan menjauhkan dari riuh pesta di atap gedung ini.bterbaring menikmati indah bercak warna dari letusan kembang api. Sama seperti yang aku dan ibuku lakukan dulu.
Sebentar lagi adalah hari ibu. Beberapa anak pasti sudah memersiapkan hadiah atau kejutan untuk ibu mereka. Terkadang aku berpikir tuhan tak adil kepadaku. Mengapa tuhan memanggil ibu begitu cepat ? Melewati hari demi hari tanpa sosok seorang ibu, itu sangat membuatku sedih.
Ibu adalah orang pertama yang ingin aku bahagiakan ketika aku dewasa sekaligus jadi motivasi terbesarku untuk tetap semangat menjalani hidup. Dan sekarang ? Tak ada hal yang mendorongku untuk itu. Tak ada tujuan untuk hasilku. Mungkin air mataku sudah lama kering, diperas pada saat ibu meninggalkanku, meninggalkan ayah dan kakak-kakakku. Tapi hatiku masih terus menangis dan menjerit.
Sekarang tak ada lagi yang membangunkanku jika sewaktu-waktu aku terlambat. Tak ada ibu saat pengambilan buku laporan di SMA. Tak ada sosok ibu untuk pelepasan masa SMA ku. Tak ada ibu dalam foto wisudaku. Tak ada lagi hari ibu di sisa kehidupanku. Tak ada tujuan untukku pulang sekedar melepas rindu atau meminta maaf pada ibu. Tak ada ibu yang mendampingiku di hari pernikahanku. Anakku tak pernah mengenal neneknya selain dari foto atau cerita dariku. Semua itu sngat tidak menyenangkan. Hidup ini terasa sangat berbeda dari kebanyakan orang.
·         “Mah, kalo nanti aku pulang mamah mau minta di beliin apa ? Soto ya mah.”
·         “Mah, nanti kita jalan-jalan ya. Tapi nunggu aku gajian, hehe.”
·         “Mah, ini aku beli handphone lagi, buat mamah aja yabiar ntar nelpon ga usah lewat orang lagi, ntar aku ajarin make nya mah ya.”
·         “Mah, alhamdulillah aku udah makan, mamah jangantelat makan ya mah.”
·         “Mah, maaf bulan ini aku ga pulang, soalnya aku maujalan-jalan. Ntar kalo ada rezeki lagi aku ajak mamah ya, sehat-sehat mah ya.”
·         “Mah, udah beli baju lebaran belum ? Kalo belum ntarbareng aku aja belinya ya.”
·         “Mah kenalin ini pacar aku ****. Cantik mah ya.”
·         “Mah. Cucu mamah kangen nih, insyaallah kita lusa ke rumah ya mah.”
·         “Mamaaaaah. Alhamdulillah tabungan aku udah cukup untuk mamah sama bapa pergi umroh, di siapin segala sesuatunya ya mah.”
·         “Mah. Maaf lahir batin ya. Maaf semua kesalahan akusama keluarga kecil aku.”
·         “Mah, mamah sakit ? Ntar aku minta cuti mah, besok aku kesana ya.”
·         “Mah aku ga enak badan, mamah gimana kabarnya ? Aku pengen di kompres sama mamah lagi.”
Percakapan ini yang aku harapkan ketika aku telah dewasa. Dan sekarang aku sudah beranjak dewasa tapi tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi beliau. Maaf ibu aku tak sempat membahagiakanmu.
"Mah, semoga apa yang aku lihat malam ini bisa terlihat juga olehmu dan memberimu kebahagiaan. Sekarang banyak sekali kembang api yang sedang kilihat dan penuh warna. Baik-baik disana mah. Tak hanya di hari ibu aku memberimu kado. Lima kali dalam satu hari di waktu yang sama aku selalu mengirimkan kado untukmu dan kado spesial di kamis malam setiap minggunya. Aku menyayangimu. Peluk cium _anakmu."
*Note*
Gunakan kesempatan yang diberikan tuhan kepadamu. Bahagiakan ibumu sekarang juga sebelum ia dipanggil olehNya.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Sabtu, 31 Oktober 2015

Malam Hutan Pinus

Mungkin ini yang aku butuhkan kala asap kendaraan dan sapa yang acuh memenuhi otak ku. Ketika kopi yang kuracik sepekat asap kota yang ku tinggalkan, semua rasaku luluh larut bersama gula di dalamnya.
Aroma rintik hujan yang menampar daun pinus dan terbentur kubangan tanah yang ku injak tadi siang masuk bersama asap kopi ini.
Dan tentang air yang menempel di pentilasi tenda ? Aku senang akan hadirnya. Menemani saat senja berselimut kabut di hutan ini.
Adukan sendok kayu yang berputar di adonan agar-agar untuk sarapan pagi nanti seakan menjaga rotasinya agar gravitasi alam tak terpental ke arah pengaruh globalisasi.
Adakah jelaga yang mengeluarkan aroma hutan pinus sealami disini ? Aku ragu menemukannya dimplanet ini.
#abd

Kehidupan Kota

Yang terlihat disini hanya daun berserakan yang dihempas angin. Hanya sayup suara gemuruh kendaraan dan klakson yang mereka bunyikan ketika para pelajar menyeberang di garis putih itu. Bagaimana kau merasa sepi di tengah riuh pedagang asongan yang menghampiri bus saat lampu merah menyala ? Kau hanya di batasi benteng baja setinggi bocah sepuluh tahun. Kau dimana ? Siapa yang membesukmu ? Hanya kutilang, setiap habis subuh ia datang ;katanya. Lalu kau tersungkur dari kursi goyangmu saat hendak berdiri, mencoba memapah lututmu yang di balut kain kasa. Siapa lagi yang menolongmu ? Adakah seorang yang lain disana ? Hanya tongkat gagang sapu yang dipatahkan membantuku berdiri ;katanya jua. Dua peniti yang kau kaitkan di ujung lengan bajumu telah kau latih agar tak selalu mempekerjakanmu tentang lengan baju. Kau cukup tenang disana. Dengan gulungan kain putih yang memerlihatkan tonjolan urat lenganmu.

#abdillah

Abdillah Junior

Malaikatku, semesta akan bersukacita atas kehadiranmu. Engkau memberi pelangi ditengah malamku. Engkau memberi pengharapan baru untuk usia senjaku.Malaikatku, akankah jemari mungilmu dapat menggenggam dunia kelak nanti ? Jika aku tak dapat membawa diriku dan ibumu menggenggam dunia, bantu aku untuk wujudkan impian itu. Aku percaya tanganmu lebih erat menggenggam kemudi di tengah badai. Kakimu takkan pernah lelah menginjak tanah tak bertuan. Mungkin mimpiku terlalu berat untuk ku pikul sendiri. Tapi jiwamu akan lebih kuat untuk membawa sebagian mimpiku, bahkan mungkin kau akan menggendong semua mimpiku di atas pundakmu. Hhh kau keras kepala seperti ibumu, kau juga seorang penggerutusepertiku. Kau akan menjadi seorang inspirator untuk orang-orang sepertiku.Malaikatku, kau mulai merangkak. Apakah itu sebuah janji jika kau menjalani hidupmu di titik terendah namun kau akan tetap riang ? Hha kau lebih bijak dari orang paling bijak didunia ini.Malaikatku, aku akan mengumpulkan semua pengetahuan di rak ini untuk kau melihat dunia suatu hari nanti. Sementara kau akan melihat dari jendela dunia, selanjutnya kau akan menemukan sebuah peta untuk menuntun langkahmu di dalam hati dan pikiranmu.Malaikatku, kau harus tahu. Akan ada bebera atau bahkan berjuta pilihan dalam kehidupanmu nanti. Kau harus pandai mengemudikan kepribadianmu. Jadilah seorang pemimpin tanpa upah ! Jadilah sukarelawan untuk membenahi lingkunganmu ! Jadilah pohon yang selalu memberi setiap helaan nafas dan penyejuk dahaga untuk setiap makhluk !Malaikatku, tubuhku telah renta termakan waktu. Mataku rabun, pelipisku mulai menunjukkan alur halus yang akan terus mendalam dan melebar.Aku baru menyelesaikan sebagian Bab dari ribuan Bab yang telah ku susun bersama ibumu. Tolong bantu aku untuk menyelesaikan sebagian Bab terakhir dalam kehidupanku. Dan bantu aku dan ibumu melewati masa senja dengan secangkir teh dan semangkuk kenangan dipagi hari.

Sabtu, 24 Oktober 2015

#SAFETYFIRST


Piatu Pemberani

Setelah mengikat tali sepau aku berpamitan kepada ayah untuk berangkat ke sekolah. Har ini Aku menolak di antar ayah ke sekolah karena ia sangat terlihat sibuk dari semalam. Dengan jadwal pemotretannya, merapikan rumah, menyapu halaman dan menyiapkan sarapan untukku. Belum lagi ia harus mengantarku pergi ke sekolah.
           
“Ayah, aku berangkat ya.”
            “Iya Zarah, sebentar ayah ambil kunci dulu.”
            “Ga apa-apa yah. Aku kan udah biasa sendiri kalo ayah ke luar kota.”
            “Tapi kan sekarang ayah ada di rumah.”
            “Ga apa-apa yah, aku berangkat sendiri aja. Aku kan udah mau kelas lima. Aku harus belajar mandiri yah.”
            “Kamu yakin ?”
            “Iya yah. Aku pamit ya.”
            “Ya udah kamu hati-hati ya nak. Kalo ada apa-apa di sekolah minta tolong aja sama bu guru buat telepon ke ayah.”
            “Iya yah. Daah…”
           
            Aku tidak mau merepotkan ayah. Ayah sudah terlalu sibuk dengan rutinitasnya. Sejakibu meninggal, ayah menjadi dua sosok dalam kehidupanku. Tegas, melindungi, menafkahi sebagai ayah dan penyayang, resik serta memasak sebagai ibu. Aku beruntung mempunyai ayah seperti itu. Lagipula jika ayah sedang melakukan pemotretan di luar kota aku sering melakukan semua hal sendiri. Dari mulai terbangun sendiri, merapikan tempat tidurku, memanggang roti untuk sarapanku dan membawa kunci rumahku sendiri. Ayah juga yang mengajariku semua itu.

            “Permisi… Permisi…”
            “Ya sebentar… Eh Zarah, ga di anter sama ayah ?”
            “Enggak tante. Mei udah berangkat ?”
            “Belum ko. Mei masih pake sepatu di dalam, tunggu sebentar ya.”
            “Hai Zarah, yuk berangkat.” Mei keluar dengan tergesa dan lansung mengajakku pergi.
            “Kamu ga pamit dulu sama mama kamu ?”
            “Ga usah ah, lama. Yuk berangkat.”
            “Tante kita berangkat ya.” Mungkin Mei belum merasakan bagaimana berartinya kecupan di punggung tangan orang tua jika itu yang menjadi yang terakhir.

Saat aku dan Mei berjalan di trotoar jalan raya aku terkaget mendengar bunyi klakson di belakang kami. Sejujurnya aku sudah sering mengalami hal ini (mengalah untuk motor melintas di trotoar). Namun sekarang aku benar-benar muak dengan kejadian ini.

            “Tiiiiiid… Tiiid…”
            “Zarah minggir sini nanti kamu ketabrak” Mei menarik lenganku agar aku bisa memberi jalan untuk pengendara itu.
            “Tiid tiid.. tiid tiid..”

Klakson itu semakin sering berbunyi di belakang. Aku tak tahan lagi dengan ulah pengendara itu. Aku tak memerdulikan teriakan Mei yang menyuruhku menepi. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku di satu titik, di saat itu. Aku membalikan tubuhku tanpa menepi.

“Maaf pa, ada apa ya ?”
“Kkamu ga liat saya mau lewat ? Minggir ! Mau celaka kamu ?”
“Maaf pa, ini trotoar bukan jalan raya. Ini tempat pejalan kaki jadi saya berhak jalan disini.”
“Kamu anak kemaren sore udah berani ceramahin orang tua, duluan saya liat matahari. Cepet minggir !” Teriakan bapak itu memancing para pejalan lain untuk berhenti, melihat situasi itu aku ingin memberi hukuman sosial pada bapak itu. Aku yakin jika aku dicelakai, para pejalan kaki tidak akan tinggal diam. Untuk itu saya balas teriakannya dengan teriakan khas anak kecil.
“Maaf pa. saya emang anak kemarin sore. Tapi apa ada jaminan kalo orang yang lebih dulu liat matahari punya etika lebih baik dari anak 10 tahun ?” Para pejalan lain mulai mencibir si pengendara itu bahkan ada yang membentaknya.
“Pa, bapa punya rasa malu ga ? itu anak kecil yang ngomong. Uadah tua ga mau di kasih tau. Sadar pa ! ini tempat buat pejalan kaki.” Sempat terjadi adu mulut di trotoar. Tapi para pejalan kaki semakin banyak yang berhenti untuk sekedar menonton dn memberi hukuman sosial.
“Sekarang bapakturun ke jalan dan puter balik ! ini jalanan searah ! cepat sebelum kita lapor polisi !” Dengan muka memerah bapak itu tergesa menurunkan motornya ke jalan raya. Entah karena marah atau malu. Tapi aku yakin ia merasakan keduanya.

Trotoar mulai melengang seperti biasa setelah adu mulut selesai. Sedikit memberi hukuman sosial kepada pelanggar. Aku tersenyum atas tindakanku yang berhasil menggagalkan pelanggar untuk terus berkendra di trotoar. Meskipun itu bukan sepenuhnya tindakanku. Bapak yang membentak pelangar tadi menghampiriku dan mengajakku jalan bersama.


“Dek, kamu mau berangkat sekolah kan ? Ayo bareng aja sama om. Kebetulan kantor om juga searah sama sekolah kamu.”
“Iya om, ayo.” Tunggu… Mei ??? Dimana dia ??? A’ku menengok kiri-kanan untuk mencarinya. Ia tidak ada.
“Kamu nyari siapa dek ?”
“Temen aku om, tadi aku berangkat berdua.”
“Loh ko bisa ga ada?”
“Ga tau om tadi pas ada rame-rame itu aku ga ngeh sama dia. Bentar om aku nyari dia dulu.” Aku pergi ke belakang ke tempat kejadian tadi dan mencari Mei.
“Meeeei.. Meeei…”
“Iya Zarah, aku disini tolongin aku !” Mei ? dimana dia ? Aku mencari asal suara itu dan aku menemukannya di.. “gerobak sampah” ????
“Mei ? Kamu ngapain disitu ?” Aku tak tahan menahan tertawaku. Aku terbahak melihatnya berjongkok di dalam gerobak samapah. Maaf Mei, bukan aku jahat menertawakan tingkahmu. Hahahaha.
“Aku takut Zarah. Makannya aku ngumpet disisni.” Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Matanya berkaca-kaca. Tapi aku tetap menenrtawakannya. Hahahaha
“Haha. Ga apa-apa Mei. Ayo kita berangkat, udah siang.”
“Iya, tapi bantuin aku dulu !” ___________
“Dek, jadi bareng om ga ? Udah siang loh.”
“Iya om, ayo.”

Ada apa dengan orang-orang di negeri ini ? Selama aku bvepergian dengan ayahku, seringkali aku menemukan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di jalanan. Entah itu motor atau mobil. Aku sering sekali memergokinya di lampu lalu lintas. Ayahku seorang yang cerda, berwawasan luas. Apa saja yang menurutnya harus aku ketahui pasti ia sampaikan.. tentu dengan gaya dongeng yang menarik. Ayah pernah bercerita tentang traffic light. Intinya adalah merah=berhenti, kuning=hati-hati dan hijau=jalan. Sering para pengendara keliru akan arti lampu-lampu itu dan mereka tidak mengetahuinya secara mendetail tentang tiga warna lampu itu. Seperti contoh di lampu kuning. Sebenarnya saat lampu kunig menyala dan akan berganti lampu merah, para pengendara harus mulai mengerem kendaraan mereka. Tapi kenyataan yang terjadi disini adalah ; saat lampu kuning menyala dan akan berganti lampu merah, mereka malah menancap gas untuk menghindari lampu merah. Belum lagi hak pejalan kaki di zebra cross. Kendaraan berhenti di tengah garis dan bahkan melewati zebra cross tersebut sehingga menyulitkan para pejalan kaki untuk menyeberang. Sungguh ironi negeriku.


“O iya. Nama kamu siapa ? Nama om Wahyu.”
“Aku Zarah om, ini temen aku Mei.”
“Wah kayak tokoh novelnya Dewi Lestari ya.”
“Ga tau om, mungkin iya.”
“Om bangga sama kamu Zarah. Kamu anak perempuan yang berani.” Om Wahyu menepuk pundakku. Mungkin ini rasanya bangga pada diri sendiri atas apa yang telah dilakukan mendapat apresiasi dari orang lain. Aku sangat senang.
“Nggak om, aku cuma kesel banget sama orang yang suka langgar peraturan di jalan. Dan ibu aku meninggal karena kecerobohan orang yang kayak gitu om. Itu alesannya aku ngelawan bapak-bapak itu.”
“Ibu kamu udah ga ada Zarah ? Om turut berduka ya.”
“Iya om, makasi. Kalo om sendiri gimana kalo bawa motor ?
“Kalo om … ummm gimana ya ? Mungkin om bisa dibilang cukup patuh sama peraturan lalu lintas. Om ga bakalan ngelakuin hal yang ngerugiin orang lain dan pastinya om sendiri. Om pake helm, motor om lengkap dengan kaca spionnya dan knalpot standar. Om ga suka memodofikasi motor aneh-aneh. Bikin orang kesel. Om juga punya SIM. Om udah punya keluarga, om pasti hati-hati dalam perjalanan. Om pasti di tumggu sama keluarga om di rumah dan om ga mau buat mereka kecewa dan khawatir. Untuk itu om ga mau bahayain diri om di jalan. Begitu juga yang seharusnya di lakukan orang lain. Contohnya kamu ; kalaupun kamu belum punya keluarga sendiri tapi kamu masih punya ayah dan ayah kamu pasti sayang sama kamu dan ga bakalan mau kamu kenapa-kenapa. Kamu jangan kecewain ayah kamu ya Zarah !”
“Iya om. Akujuga pengennya semua masyarakat sadar keselamatan kayak om.”
“Semoga ya Zarah. Kita mulai dari diri sendiri aja dulu. Udah mau jam masuk sekolah. Kalian masuk gih, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”
“Iya om, makasi ya. Salam buat keluarga om.”

Ucapan om Wahyu itu sangat benar. Keluarga menunggu di rumah, mereka sangatkhawatir dengan anggota keluarganya dan mereka ingin anggota keluarganya selamat. Tapi sangat di sayangkan ribuan nyawa melayang karena ketidakpedulian dan kecerobohan. Peraturan disini dibalas dengan keacuhan.
Akhirnya ayahku tahu cerita kejadian kemari pagi dari tante Maya : ibunya Mei. Ayahku membenarkan tindakanku tapi ia berpikir belum saatnya dengan usiaku saat ini. Dan hari ini aku di antar kesekolah oleh ayahku. Yah sangat patuh dalam peraturan berkendara. Ia memakai helm, begitu juga denganku. Motor ayah juga nyaman, tidak membuat telinga orang lain sakit. Motor ayah lengkap dengan kaca spionnya. Ayah memiliki SIM dari usianya 18 tahun dari ia belum memiliki sepeda motornya sendiri. Ayah sadar ia harus memiliki SIM meskipun ia tidak memiliki kendaraan sendiri. Ia pasti ada kepentingan yang mengharuskannya untuk berkendara dan kendaraan bisa meminjang ke teman atau saudaranya.

Nyaman dan tak ada kekhawatiran saat aku di bonceng ayah. Ia tidak berkendara dengan tergesa, mematuhi lampu lalu lintas dan mmberi kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang di zebra cross. Di tengah perjalanan ada razia yang di lakukan oleh kepolisian setempat untuk memeriksa kelengkapan kendaraan dan surat-suratnya.

“Selamat pagi, pak.”
“Pagi pa.”
“Maaf telah mengganggu perjalanannya. Maaf bisa perlihatkan SIM dan STNK nya ?”
“Silahkan pa.” Ayahku sangat sopan kepada petugas, termasuk pada semua orang yang ia jumpai. Sambil melihat surat-surat ayah, petugas juga memerhatikan kelengkapan motor ayah secara fisik dan aku yakin tak ada cacat disana.
“Baikla pak, anda berkendara dengan baik dan memenuhi aturan berkendara. Maaf atas gangguannya, semoga selamat sampai tujuan dan selamat pagi pak.”
“Siap, pa. terimakasih.”

Setelah ayah memasukkan surat-suratnya kami melanjutkan perjalanan ke sekolah. Dalam razia itu aku melihat beberapa pengendara yang beberapa di antaranya adalah anak di bawah umur yang mendapat surat tilang dari petugas. Sungguh di sayangkan karena mereka tidak tahu betapa nyamannya berkendatra dengan aturan dan tanpa kekurangan apapun di kendaraan. Keselamatan sangat terjamin selama kita punya etika dalam berkendara. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia karena hambatan saat ada razia di perjalanan.tapi keselamatan adalah hal yang paling penting dalam urusan berkendara. Keselamatan sangat tak ternilai harganya. Karena om wahyu penah berkata padaku ; “keluarga kita menunggu di rumah. Jadi, berhati-hatilah saat berkendara.”
Terimakasih ayah, aku beruntung mempunyai ayah sepertimu yang telah mengajariku segala hal yang harus aku lakukan dalam hidup ini untuk menjadi seorang yang bijak.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com